Yogyakarta optimalkan pekarangan rumah untuk bangun ketahanan pangan
Yogyakarta optimalkan pekarangan rumah untuk bangun ketahanan pangan
Kamis, 20 Agustus 2026 21:51 WIB
Kampung Tangguh Pangan yang dikembangkan masyarakat di wilayah Mantrijeron, Yogyakarta. ANTARA/HO-Dinas Kominfosan Yk
Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengoptimalkan pekarangan rumah, lorong kampung hingga halaman rumah yang tidak terlalu luas di daerahnya untuk ditanami tanaman pangan maupun budi daya perikanan untuk membangun ketahanan pangan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta Kadri Renggana di Yogyakarta, Kamis, mengatakan dengan keterbatasan lahan yang ada di kota ini, justru dituntut untuk terus menghadirkan kreativitas dalam membangun ketahanan pangan.
"Ketahanan pangan tidak harus dimulai dari lahan yang luas, namun satu keluarga yang menanam kebutuhan pangannya sendiri, kelompok warga yang membudidayakan ikan di pekarangan," katanya.
Menurut dia pekarangan rumah, lorong kampung, halaman, hingga ruang-ruang sempit lainnya dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan apabila dikelola dengan pengetahuan, ketekunan, dan kerja sama masyarakat.
Dia mengatakan bahkan apabila produksinya telah berkembang dengan baik, hasil tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu mendorong tumbuhnya usaha rumah tangga maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
"Dengan demikian, gerakan ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat," katanya.
Salah satu upaya mendorong pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan dengan lomba Kampung Tangguh Pangan, yang harapannya banyak kampung di Yogyakarta mampu mengembangkan ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi mengatakan dengan Kampung Tangguh Pangan, Pemkot Yogyakarta akan melihat bagaimana masyarakat membangun sistem ketahanan pangan secara menyeluruh.
"Tidak hanya menanam, tetapi juga bagaimana hasil panen dimanfaatkan, bagaimana lingkungan tetap bersih dan rapi, serta bagaimana seluruh warga berpartisipasi dalam menjaga keberlanjutan program tersebut," katanya.
Ada empat aspek utama yang menjadi dasar penilaian lomba Kampung Tangguh Pangan, yaitu penerapan sistem integrated farming, estetika kebersihan dan kerapian lingkungan, pemanfaatan hasil produksi, serta peran aktif masyarakat.
Sementara pada aspek budidaya, tentang teknik pertanian, peternakan, dan perikanan, termasuk inovasi, kebersihan lingkungan, pengelolaan limbah, keberagaman produk hasil panen hingga kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi penting.
"Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, kreativitas, inovasi, dan semangat gotong royong menjadi modal penting untuk mewujudkan kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026