gop-crypto.vip

Yayasan Muslih Center Hadirkan Bazar Cinta Rupiah melalui PAUD dan SD Islam Al-Hiro

Yayasan Muslih Center Hadirkan Bazar Cinta Rupiah melalui PAUD dan SD Islam Al-Hiro

Jumat, 7 Agustus 2026 20:35 WIB

Image Print

Semangat menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa istimewa di wilayah perbatasan RI–Malaysia. Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara melalui PAUD Islam Al-Hiro dan SD Islam Al-Hiro menggelar Bazar Cinta Rupiah pada Kamis (6/8). (IST)

Nunukan (ANTARA) - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa istimewa di wilayah perbatasan RI–Malaysia. Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara melalui PAUD Islam Al-Hiro dan SD Islam Al-Hiro menggelar Bazar Cinta Rupiah pada Kamis (6/8), mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai, bertempat di Teras Masjid Islahul Ummah, Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Semarak Kemerdekaan Republik Indonesia ini menghadirkan konsep pembelajaran yang berbeda. Sekitar 50 stand bazar dikelola langsung oleh peserta didik PAUD dan SD Islam Al-Hiro dengan pendampingan guru dan orang tua.

Berbagai produk Indonesia dipasarkan, mulai dari makanan tradisional, aneka jajanan, minuman, buah tangan, hingga produk olahan lainnya.

Seluruh transaksi selama kegiatan wajib menggunakan Rupiah sebagai implementasi nyata Gerakan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Acara dibuka oleh Ketua Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara, Dr. Wahyudi, dan Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur melalui Kasi Pemerintahan Kecamatan Sebatik Timur, M. Alatas, yang mewakili Camat Sebatik Timur.

Turut hadir pula perwakilan Pemerintah Desa Sungai Nyamuk, Bhabinkamtibmas Desa Sungai Nyamuk, seluruh orang tua peserta didik, masyarakat sekitar Masjid Islahul Ummah, khususnya warga di empat RT sekitar lokasi kegiatan, serta masyarakat Sebatik yang memadati bazar.

Dalam sambutannya, Wahyudi menegaskan bahwa Bazar Cinta Rupiah bukan sekadar kegiatan seremonial untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, melainkan sebuah proses pendidikan karakter yang dirancang agar anak-anak mengalami langsung nilai-nilai kebangsaan melalui praktik kehidupan sehari-hari.

"Kegiatan ini bukan sekadar simbol, jargon, atau seremoni cinta Rupiah dan cinta tanah air. Yang kami bangun adalah praktik nyata melalui pembiasaan (habituasi) kepada Generasi Alpha pada masa emas pertumbuhannya. Anak-anak belajar berdagang dengan jujur, melayani pembeli, menghitung uang, berkomunikasi, bekerja sama, mencintai produk Indonesia, sekaligus membiasakan menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi. Di sinilah karakter, jiwa wirausaha, dan rasa cinta tanah air dibentuk sejak usia dini," ujar Wahyudi.

Menurutnya, pendekatan tersebut sangat relevan diterapkan di Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak dapat dipisahkan dari aktivitas ekonomi lintas batas yang identik dengan penggunaan Ringgit Malaysia dan beredarnya berbagai produk dari negara tetangga.

Karena itu, pendidikan karakter kebangsaan harus dimulai sejak usia dini agar kecintaan terhadap Indonesia tumbuh secara alami melalui pengalaman nyata.

Wahyudi menjelaskan bahwa kegiatan ini juga merupakan implementasi dari hasil penelitian doktoralnya yang mengkaji penanaman nilai-nilai cinta tanah air pada masyarakat di wilayah perbatasan.

Menurutnya, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nasionalisme tidak cukup dibangun melalui ceramah, slogan, ataupun seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui pembiasaan yang terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

"Disertasi doktoral saya berbicara tentang bagaimana menanamkan cinta tanah air kepada masyarakat perbatasan. Salah satu kesimpulannya adalah nasionalisme akan lebih kuat apabila dibangun melalui pengalaman nyata. Karena itu, Yayasan Muslih Center Kaltara menghadirkan Bazar Cinta Rupiah sebagai ruang belajar bagi anak-anak untuk mencintai Indonesia melalui tindakan sederhana, seperti bangga menggunakan Rupiah, mencintai produk Indonesia, melayani pembeli dengan jujur, dan belajar mandiri melalui kewirausahaan sejak usia dini," jelasnya.

Sementara itu, mewakili Camat Sebatik Timur, M. Alatas, menyampaikan apresiasi sekaligus dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Bazar Cinta Rupiah.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan inovasi pendidikan yang mampu memadukan pendidikan karakter, literasi keuangan, semangat kewirausahaan, dan nasionalisme dalam satu kegiatan yang menyenangkan serta dekat dengan kehidupan anak-anak.

Selama bazar berlangsung, peserta didik tampak antusias menawarkan dagangan, melayani pembeli, menerima pembayaran menggunakan Rupiah, memberikan uang kembalian, hingga belajar berinteraksi dengan masyarakat.

Orang tua dan warga sekitar pun turut memadati lokasi kegiatan dengan membeli berbagai produk yang dijual anak-anak sebagai bentuk dukungan terhadap proses belajar mereka.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara sendiri menaungi lembaga pendidikan formal dan nonformal, yakni PAUD Islam Al-Hiro, SD Islam Al-Hiro, dan TPQ Al-Hiro.

Melalui berbagai program inovatif, yayasan berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter Islami, jiwa kepemimpinan, semangat kewirausahaan, kepedulian sosial, serta nasionalisme yang kuat.

Bazar Cinta Rupiah membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat diwujudkan melalui aktivitas sederhana namun berdampak besar.

Dari teras Masjid Islahul Ummah di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, anak-anak belajar bahwa mencintai bangsa tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dipraktikkan melalui tindakan nyata: bangga menggunakan Rupiah, mencintai produk Indonesia, berani berwirausaha, dan tumbuh menjadi generasi yang mandiri.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara berharap lahir generasi perbatasan yang tetap teguh mencintai Indonesia, bangga terhadap Rupiah, menghargai produk dalam negeri, serta siap menjadi generasi penerus yang mampu menjaga identitas kebangsaan di tengah dinamika kawasan perbatasan RI–Malaysia.

Pewarta : Redaksi
Editor: Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.