gop-crypto.vip

Yang Terjadi Abad ke-18 dan 19 Masehi: Kemunduran Dunia Islam dan Runtuhnya Kekuasaan Ottoman |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kelemahan dan kemunduran mulai merasuki tubuh umat Islam setelah wafatnya Salahuddin Al-Ayyubi, tokoh yang berhasil mengalahkan pasukan Salib dan membersihkan negeri-negeri Muslim dari kekuasaan mereka.

Keadaan semakin memburuk setelah bangsa Tatar menguasai sejumlah kerajaan Islam, memecah belah umat, serta berupaya menghapus berbagai peninggalan peradaban, agama, dan ilmu pengetahuan Islam.

Namun, kehendak Allah yang berlaku atas segala sesuatu menghendaki agar umat ini mendapatkan pertolongan. Allah kemudian memberikan kekuatan dan kesempatan kepada bangsa Turki Ottoman untuk bangkit.

Puncak kejayaan tersebut terjadi pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih, yang melalui tangannya Allah memberikan kemenangan dengan ditaklukkannya Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, pada tahun 857 H/1453 M.

Penaklukan itu mengembalikan kewibawaan, kekuatan, kejayaan, dan kemuliaan umat Islam. Dinasti Ottoman kemudian tampil sebagai pemimpin dunia Islam.

Masyarakat Ottoman dikenal memiliki semangat yang tinggi, kecintaan terhadap jihad, kerinduan terhadap syahid di jalan Allah, fitrah yang masih terjaga, serta relatif jauh dari berbagai penyakit sosial yang telah menjangkiti sebagian bangsa lainnya.

Ditambah lagi dengan kepemimpinan yang memiliki orientasi keagamaan yang kuat. Para pemimpinnya mengarahkan rakyat menuju medan peperangan, menyebarkan Islam, serta berusaha menyingkirkan berbagai hambatan dari masyarakat yang wilayahnya berhasil ditaklukkan.

Dengan demikian, Islam dapat diperkenalkan kepada mereka dalam bentuk yang dianggap murni dan terbebas dari berbagai penyimpangan.

Islam kembali tampil sebagai kekuatan utama dalam kepemimpinan dunia. Negara Utsmani bahkan menguasai wilayah di tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Pasukan Utsmani terus bergerak jauh ke Eropa hingga mencapai tembok Kota Wina. Mereka juga menjadi penguasa Laut Mediterania tanpa tandingan yang berarti.

Dengan demikian, Dinasti Ottomann berhasil memadukan dua kekuatan sekaligus: kekuatan darat dan laut, serta dua bentuk kekuasaan: spiritual dan politik.