Waspadai Produk Obat Abal-abal, BPOM Ingatkan Penanganan Obesitas Tak Bisa Instan
Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:59 WIB
Jakarta, VIVA – Keinginan untuk menurunkan berat badan dengan cepat, kerap membuat berbagai produk pelangsing yang menawarkan hasil instan terlihat menggiurkan.
Baca Juga
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. Dr Taruna Ikrar mengingatkan, produk semacam ini juga semakin mudah ditemukan, termasuk melalui penjualan online dan promosi di media sosial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Kami mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap promosi produk kesehatan, termasuk yang dilakukan influencer," kata Prof. Taruna dalam keterangannya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca Juga
Ilustrasi obesitas.
Photo :
- http://listverse.com
Menurutnya, promosi di media sosial terkadang disertai klaim berlebihan atau overclaim. Karena itu, informasi dari review seharusnya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menggunakan obat penurun berat badan.
Baca Juga
Prof. Taruna juga mengingatkan agar penggunaan obat penurun berat badan disesuaikan dengan ketentuan.
"Bila obat tersebut membutuhkan resep, penggunaannya perlu melalui konsultasi dengan dokter," ujarnya.
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr Riyanny Meisha Tarliman mengatakan, anggapan bahwa obesitas hanya terjadi karena kurang disiplin juga perlu diluruskan.
Menurutnya, ada faktor genetik, ketidakseimbangan hormonal, dan berbagai faktor lain yang dapat berperan menyebabkan obesitas. Kondisi tersebut membuat penyebab obesitas perlu dicari terlebih dahulu, agar penanganannya dapat disesuaikan.
“Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dan lain-lain. Hal itu seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter," kata dr Riyanny.
Karenanya, Novo Nordisk Indonesia pun menghadirkan www.NovoCare.id, agar masyarakat memiliki akses ke informasi berbasis sains untuk memahami obesitas dengan lebih baik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Sekaligus akses untuk terhubung dengan dokter yang dapat membantu penanganan obesitas secara tepat,” ujarnya.
Diketahui, Novo Nordisk telah berkomitmen lebih dari 20 tahun dalam menangani obesitas dan diabetes di Indonesia, melalui edukasi, kolaborasi, dan inovasi bersama pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
1/4 Orang Dewasa Indonesia Alami Obesitas yang Ternyata Penyakit Kronis, Dokter: Bukan Sekadar Kebanyakan Makan!
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 23,4 persen orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, atau hampir 1 dari 4 orang dewasa.
VIVA.co.id
15 Agustus 2026