Wapres Gibran Tertarik! Bukan Sekadar Drone, Teknologi ITB Ini Bisa Pantau Kualitas Udara dan Karhutla
Ayu Rachmaningtyas
| 10 September 2026, 10:32 WIB

Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, menyoroti inovasi mahasiswa ITB yang berpotensi digunakan untuk memperkuat pemantauan lingkungan dan mendeteksi lebih dini potensi karhutla.
AKURAT.CO Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, menyoroti inovasi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berpotensi digunakan untuk memperkuat pemantauan lingkungan dan mendeteksi lebih dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Inovasi tersebut bernama Eaglesense, teknologi yang menggabungkan drone dengan perangkat sensor untuk memantau kualitas udara.
Teknologi ini menjadi salah satu dari lima inovasi mahasiswa dan dosen ITB yang dipresentasikan dalam audiensi bersama Gibran di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Gibran mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan sivitas akademika ITB. Menurutnya, karya-karya tersebut memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan nyata di berbagai sektor.
"Berbagai karya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik, tetapi dapat dihilirkan menjadi solusi teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat, dunia industri, dan tantangan pembangunan nasional," jelasnya dalam keterangannya.
Perwakilan Tim Eaglesense, Jhon Chritabel Fausta Silalahi, menjelaskan teknologi tersebut dirancang dengan mengintegrasikan drone dan kitbox sensor yang dilengkapi lima sensor untuk mengukur kualitas udara.
Data yang diperoleh dari sensor kemudian diproses menggunakan Raspberry Pi sebelum dikirim melalui jaringan 4G menuju basis data. Selanjutnya, informasi tersebut ditampilkan dalam sebuah dasbor pemantauan.
“Di dalam kitbox sensor tersebut memiliki beberapa sensor, yaitu total ada 5, yang akan mengukur kualitas udara. Kemudian dari hasil tersebut akan diproses oleh Raspi, kemudian Raspi akan mengirimkan dalam bentuk format data, dikirimkan melalui 4G ke database, dan database akan ditampilkan melalui dashboard,” kata Jhon.
Penggunaan drone memungkinkan pengumpulan data dilakukan pada wilayah yang lebih luas, termasuk area yang sulit dijangkau secara langsung.
Data yang dikumpulkan juga dapat memberikan gambaran kondisi kualitas udara secara lebih cepat.
Teknologi tersebut berpotensi dikembangkan sebagai instrumen pemantauan lingkungan, termasuk untuk mengidentifikasi perubahan kualitas udara akibat paparan asap yang dapat menjadi salah satu indikator awal potensi karhutla.
Baca Juga: Kapal Feri Terbakar di Perairan Filipina, 5 Tewas dan Puluhan Penumpang Masih Hilang