gop-crypto.vip

Wamendiktisaintek dorong perguruan tinggi Riau dan Kepri bangun konsorsium

Wamendiktisaintek dorong perguruan tinggi Riau dan Kepri bangun konsorsium

Senin, 3 Agustus 2026 16:04 WIB

Image Print

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan. ANTARA/HO-Kemdiktisaintek

Tanjungpinang (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) membangun konsorsium sebagai wadah bersama untuk menjawab persoalan pembangunan daerah.

"Pendidikan tinggi merupakan aset strategis, karena kampus menjadi ruang utama pengembangan sumber daya manusia. Kapasitas itu perlu diarahkan pada persoalan nyata yang dihadapi daerah," kata Wamendikdasmen Fauzan dalam keterangannya di Tanjungpinang, Kepri, Senin.

Menurutnya, Riau dan Kepri memiliki modal pembangunan yang kuat, sekaligus tantangan yang khas.

Perekonomian Riau tercatat sebagai yang terbesar keenam secara nasional, sementara Kepri mencatat pertumbuhan tertinggi ketiga di Indonesia pada triwulan III 2025 dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 80,53 adalah ketiga tertinggi nasional.\

Namun demikian, kata dia, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar kerja. Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka Kepri berada pada 6,94 persen per Februari 2025, tertinggi kedua secara nasional, dengan angka tertinggi justru berada di Kota Batam yang menjadi penyumbang utama perekonomian provinsi.

Tantangan lainnya, berupa kesenjangan antar-wilayah. Di Riau, tingkat kemiskinan Kepulauan Meranti tercatat 23,15 persen berbanding Kota Dumai 3,14 persen.

Sementara di Kepri, kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Natuna sebesar 8,06 persen, sedangkan Kota Batam 4,03 persen.

Kemudian pada bidang kesehatan, prevalensi stunting di Riau meningkat dari 13,6 persen pada 2023 menjadi 20,1 persen pada 2024, melampaui ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Karena itu Wamendiktisaintek Fauzan menilai potensi dan sekaligus tantangan sebesar itu tidak dapat diselesaikan oleh satu kampus secara sendiri-sendiri. Berbagai kepakaran, program, sumber daya, dan fasilitas kampus dapat dihimpun melalui konsorsium perguruan tinggi agar bekerja pada sasaran yang sama.

"Konsorsium itu sebenarnya adalah membangun satu ekosistem untuk memajukan pendidikan tinggi dan sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah," katanya.

Wamendiktisaintek Fauzan mencontohkan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menghimpun 27 perguruan tinggi untuk menangani stunting dan kemiskinan.

Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pendampingan Keluarga Stunting, ribuan mahasiswa diterjunkan ke desa-desa dengan pembinaan dosen, sekaligus menghasilkan riset yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya mengarahkan riset kampus pada kebutuhan riil daerah.

"Risetnya mengambil problem yang ada di daerah, sehingga mereka lulus itu menyerahkan disertasinya dan dapat menjadi rekomendasi dasar pembuatan kebijakan daerah," ujar Wamendiktisaintek Fauzan.

Selain riset, lanjut dia, perguruan tinggi juga didorong untuk memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan mahasiswa.

Menurut dia, capaian tata kelola dan akreditasi perlu berjalan seiring dengan kualitas layanan dan relevansi lulusan.

Wamendiktisaintek Fauzan turut menekankan pentingnya perguruan tinggi memberikan dukungan agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu serta memperoleh pembelajaran yang relevan, jaringan kolaborasi, dan lingkungan akademik yang ramah.

"Kami ikut mendorong kolaborasi yang lebih konkret antara Riau dan Kepri, termasuk pemetaan terhadap kepakaran yang dimiliki perguruan tinggi dan kemudian disandingkan dengan program serta kebutuhan pemerintah daerah," ucapnya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamendiktisaintek dorong kampus di Riau dan Kepri bangun konsorsium

Pewarta : Ogen
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.