Viral Turis Naik Gunung ke Situs Suci India Ditandu Empat Orang Bak Raja
Gujarat -
Sebuah video viral dari Gunung Girnar di Gujarat, India, memicu perdebatan di media sosial. Seorang turis kaya ditandu empat orang untuk naik ke Gunung Suci.
Klip yang diunggah oleh pengguna X, Daniel Mayakovski, memperlihatkan empat porter menggotong seorang peziarah di atas tandu tradisional (palki). Empat porter itu terlihat meniti tangga batu yang terjal menggunakan tongkat kayu sebagai penyeimbang.
Perjalanan mereka menuju Puncak Dattatreya yang suci, melintasi lebih dari 10.000 anak tangga dengan kecuraman tinggi. Ini menjadikannya salah satu rute ziarah paling menantang secara fisik di India, seperti dikutip dari NDTV pada Rabu (22/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayakovski menyertakan narasi kritis bahwa fenomena ini memperlihatkan bentuk nyata kapitalisme, di mana wisatawan berkecukupan membayar penduduk lokal untuk menanggung penderitaan fisik mereka.
Secara geografis, Gunung Girnar berdiri megah di Distrik Junagadh, negara bagian Gujarat, India Barat, menjulang hingga ketinggian 1.031 meter di atas permukaan laut dan menjadi titik tertinggi di seluruh wilayah Gujarat. Gunung ini bukan sekadar jalur pendakian, melainkan pusat spiritual lintas agama dan tempat bersejarah yang sangat unik.
Bagi umat Jain, Girnar adalah salah satu situs tersuci di dunia tempat Neminatha, Tirthankara ke-22, mencapai pencerahan spiritual tertinggi (Kevala Jnana). Gunung ini juga disucikan oleh umat Hindu karena menyimpan tempat bertapa suci seperti Kuil Amba Mata, Mahakali Mandir, dan Puncak Dattatreya.
Fakta unik lainnya, di kaki gunung ini terdapat Prasasti Batu Kaisar Ashoka dari abad ke-3 SM yang memuat titah moral ahimsa (tanpa kekerasan). Hutan di sekelilingnya yang menjadi benteng pertahanan terakhir bagi populasi Singa Asia (Panthera leo persica) yang tersisa di dunia.
Bagi masyarakat lokal, layanan tandu (palki) pada dasarnya disediakan bukan demi kemewahan, melainkan sebagai bentuk kepedulian sosial bagi peziarah lanjut usia, penyandang disabilitas, atau mereka yang menderita gangguan kesehatan berat agar tetap bisa menuntaskan ikrar ibadahnya. Namun, kontroversi merebak ketika banyak pengunjung muda yang berbadan sehat dan bugar secara fisik turut memanfaatkan jasa ini hanya karena enggan kelelahan mendaki ribuan anak tangga sendiri.
Hal inilah yang menyulut amarah publik karena kaburnya batas antara kepedulian kemanusiaan dan kemudahan yang dibeli dengan uang. Kolom komentar media sosial pun diwarnai perdebatan sengit tentang esensi moral dan ketimpangan ekonomi.
Beberapa netizen berkomentar tajam bahwa jika seseorang membutuhkan tenaga empat orang dan batang bambu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih baik berdoa dari rumah saja. Pengguna lain menambahkan bahwa jika Tuhan adil, seluruh berkah dan pahala ziarah seharusnya diberikan kepada para pemikul tandu yang bermandi keringat, bukan penumpang yang digendong. Praktik ini dinilai memperlihatkan kesenjangan sosial yang tajam, di mana kekayaan memungkinkan seseorang mengalihkan beban fisik kepada kelompok ekonomi rentan.
Di sisi lain, banyak warganet membela keberadaan para porter. Mereka berpendapat bahwa para pemikul ini adalah pekerja tangguh yang memilih profesi tersebut secara sadar karena memberikan penghasilan tetap bagi keluarga mereka di pedesaan Gujarat.
Kasus ini serupa dengan yang terjadi di situs ziarah Kedarnath, di mana para porter lokal melancarkan aksi protes menolak proyek pembangunan kereta gantung (ropeway) karena khawatir akan kehilangan mata pencaharian utama mereka.
Pada akhirnya, rekaman singkat di Gunung Girnar ini memantulkan realitas sosial yang rumit mengenai benturan antara etika spiritual, keuntungan finansial, dan perjuangan masyarakat lokal dalam mencari nafkah.
(bnl/wsw)