gop-crypto.vip

Viral Tren Foto 80an Pakai ChatGPT, Diam-diam Bikin Bumi Makin Panas

Jakarta -

Foto bergaya tahun 1980-an yang dibuat dengan bantuan AI sedang menjadi tren di media sosial saat ini. Tinggal unggah foto, tulis prompt, beberapa saat kemudian wajah sudah berubah menjadi potret retro lengkap dengan gaya rambut, pakaian, warna dan nuansa kamera zaman dulu.

Membuatnya memang semudah itu. Tapi, ada bagian yang tidak terlihat ketika gambar tersebut muncul di layar, komputer di balik AI harus bekerja keras untuk menghasilkan setiap gambar.

Komputer itu berada di pusat data yang membutuhkan listrik, sistem pendingin, air dan perangkat keras. Artinya, meski proses membuat foto AI terlihat sepenuhnya digital, ada jejak fisik di baliknya yang berkontribusi membuat Bumi makin panas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bikin Foto AI Butuh Energi

Mengutip laporan FirstPost, Ketika pengguna meminta ChatGPT atau layanan AI lain membuat sebuah gambar, prosesnya tidak terjadi di smartphone. Permintaan tersebut dikirim ke server di pusat data.

Di sana, prosesor khusus menjalankan model AI untuk memahami perintah, memproses gambar dan menghasilkan visual baru. Semakin kompleks tugasnya, semakin besar pula komputasi yang dibutuhkan.

Penelitian yang dilakukan Carnegie Mellon University dan Hugging Face menemukan bahwa konsumsi energi untuk menghasilkan gambar AI dapat berbeda sangat jauh, tergantung model yang digunakan. Dalam pengujian mereka, sejumlah model membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan model lainnya.

Penelitian lain terhadap berbagai model pembuat gambar AI juga menemukan perbedaan konsumsi energi yang sangat lebar. Faktor seperti model, resolusi gambar dan metode generasi dapat memengaruhi kebutuhan energi.

Jadi, tidak ada angka tunggal yang bisa digunakan untuk mengatakan bahwa setiap foto AI pasti membutuhkan listrik dalam jumlah tertentu. Yang jelas, satu gambar tidak berdiri sendiri.

Masalah muncul ketika jutaan orang ikut membuatnya. Bayangkan satu orang membuat satu foto AI. Tren viral biasanya juga membuat orang tidak berhenti pada satu gambar. Mereka mencoba beberapa prompt, membuat variasi, mengganti gaya, memperbesar resolusi, lalu mengulanginya sampai mendapatkan hasil yang disukai.

Nah, kalikan aktivitas tersebut dengan jutaan pengguna. Di sinilah kebutuhan komputasi mulai menjadi persoalan skala. Foto yang terlihat ringan di layar bisa berarti jutaan proses komputasi yang berlangsung di pusat data.

Apalagi generative AI kini tidak hanya digunakan untuk membuat foto. Orang juga memakainya untuk membuat ilustrasi, video, animasi dan berbagai konten dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.

AI Juga Butuh Air

Bukan cuma listrik, ada satu kebutuhan AI lainnya yang jarang terlihat, air. Server di pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika bekerja. Panas tersebut harus dibuang agar perangkat tidak mengalami overheating.

Air digunakan pusat data sebagai salah satu sistem pendinginan. Penelitian dari University of California, Riverside mengenai jejak penggunaan air oleh AI menunjukkan bahwa konsumsi air dapat menjadi bagian signifikan dari jejak lingkungan sistem AI.

Namun, jumlahnya sangat bergantung pada lokasi pusat data, teknologi pendinginan dan sumber listrik yang digunakan. Karena itu, klaim seperti 'satu foto AI menghabiskan sekian mililiter air' tidak sepenuhnya benar, karena kondisinya tidak sesederhana itu.

Pusat data yang menggunakan sistem pendingin berbeda, berada di lokasi berbeda atau mendapatkan listrik dari sumber berbeda dapat memiliki jejak air dan karbon yang berbeda pula.

Dampak lingkungan AI juga tidak berhenti pada listrik yang digunakan ketika gambar dibuat. Pusat data membutuhkan GPU, server, chip, sistem penyimpanan dan perangkat jaringan. Semua perangkat tersebut harus diproduksi.

Artinya, ada rantai panjang sebelum sebuah prompt menghasilkan foto di layar pengguna. Mulai dari pengambilan bahan mentah, produksi semikonduktor, pembuatan perangkat keras, pembangunan pusat data, transportasi hingga pengelolaan perangkat ketika sudah tidak digunakan.

Dengan kata lain, istilah cloud computing sebenarnya agak menipu. Data memang terasa seperti berada 'di awan', tetapi AI bekerja di gedung-gedung nyata yang dipenuhi mesin. Dan mesin-mesin tersebut membutuhkan energi.

Pertumbuhan generative AI membuat konsumsi energi pusat data menjadi perhatian di berbagai negara. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global akan meningkat tajam hingga 2030, dengan AI menjadi salah satu pendorong pertumbuhan kebutuhan komputasi.

Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata tren foto 80-an. Foto retro yang dibuat dengan AI hanyalah contoh kecil dari perubahan cara manusia menggunakan komputasi. Sekarang sedang tren foto, besok mungkin video, di kemudian hari mungkin konten 3D atau simulasi yang jauh lebih kompleks.

Lalu apakah sebaiknya kita berhenti membuat foto AI? Jawabannya juga tidak sesederhana itu. Membuat satu atau beberapa foto AI tentu tidak bisa dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.

Persoalannya ada pada akumulasi penggunaan dalam skala besar dan bagaimana industri AI mengelola kebutuhan sumber dayanya. Model AI yang lebih efisien dapat mengurangi kebutuhan komputasi. Pusat data yang menggunakan energi rendah karbon juga dapat menekan emisi. Teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan penggunaan air daur ulang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Karena itu, tanggung jawab bukan hanya berada pada pengguna yang membuat gambar. Perusahaan teknologi juga punya peran besar dalam membuat model, chip, pusat data dan sistem pendingin yang lebih efisien.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA