Ustadz Erick Yusuf Soroti Film NAZA: Kala Teknologi AI Reduksi Nyawa Jadi Deretan Angka |Republika Online
Ustadz Erick Yusuf. Dia membagikan pandangannya mengenai film NAZA. Film berdurasi sekitar 80 menit ini menghadirkan kesaksian dari 24 personel militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia perfilman kembali dihadapkan pada sebuah karya dokumenter investigasi yang menyoroti sisi lain operasi militer di Jalur Gaza. Berjudul NAZA, film berdurasi sekitar 80 menit ini menghadirkan kesaksian dari 24 personel militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan.
Dokumenter ini menyoroti sistem penargetan militer serta penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam menentukan sasaran serangan.
Garapan dua sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, yang sebelumnya menggarap film pemenang Oscar No Other Land ini mendapat sambutan luas di tingkat internasional.
Pada pemutaran di Festival Film Internasional Venesia ke-83 pada September 2026, NAZA meraih standing ovation selama sekitar 25 menit serta membawa pulang Special Jury Prize. Film ini juga masuk dalam program utama New York Film Festival 2026.
Di balik apresiasi sinematik tersebut, isi film ini memicu refleksi mendalam dari berbagai pihak, termasuk dai yang kerap menyuarakan isu Palestina, Ustadz Erick Yusuf atau Kang Erick. Seusai menyaksikan film tersebut, ia menilai NAZA bukan sekadar tontonan biasa.
“Ini karya yang meronta, yang tidak bisa disederhanakan sebagai film,” ujar Erick.
Menurut dia, berbeda dari film pada umumnya yang mengandalkan alur cerita dan dramaturgi untuk membangun emosi, NAZA menghadapkan publik langsung pada kesaksian dan fakta lapangan. Film ini mengajak penonton menyaksikan realitas yang terjadi tanpa ruang untuk sekadar menikmati hiburan.
Dia menyoroti penggunaan istilah collateral damage atau kerusakan kolateral dalam konteks operasi militer. Menurutnya, istilah tersebut menjadi eufemisme yang menyamarkan hilangnya nyawa warga sipil yang tidak bersalah.
“Dalam leksikon militer, NAZA itu dimaknai sebagai kerusakan kolateral. Sebuah eufemisme yang bengis untuk mendefinisikan nyawa-nyawa yang tak bersalah, yang dianggap layak untuk dikorbankan,” kata dia.