Turunnya harga baterai belum berdampak pada harga kendaraan
Turunnya harga baterai belum berdampak pada harga kendaraan
Selasa, 28 Juli 2026 15:59 WIB
Pengunjung mengamati mobil listrik nasional dengan merek i2C ((Indigenous Indonesian Car) yang hadir di ajang pameran otomotif di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (27/7/2025). Teknologi Militer Indonesia (TMI), yayasan dibawah Kementerian Pertahanan, resmi memperkenalkan proyek mobil nasional berbasis baterai EV0 yang dinamai i2C, yang ditargetkan akan diproduksi masal pada tahun 2028, yang nantinya dibandrol dengan harga dibawah Rp500 juta. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nz
Jakarta (ANTARA) - Studi terbaru yang dilakukan International Council on Clean Transportation (ICCT) terhadap pasar otomotif Jerman, menyatakan bahwa harga baterai kendaraan listrik mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, namun tidak membuat harga mobil listrik di pasaran ikut turun.
Dilansir dari CarsCoops, Minggu (26/7) waktu setempat, berdasarkan penelitian yang menganalisis lebih dari 100.000 konfigurasi mobil penumpang yang dipasarkan di Jerman sepanjang 2020 hingga 2025, biaya baterai secara riil telah turun sekitar 35 persen.
Dalam penelitian tersebut, data menunjukkan bahwa harga kendaraan listrik hanya turun sekitar 18 persen setelah disesuaikan dengan inflasi, bobot kendaraan, tenaga, kapasitas baterai, dan jarak tempuh.
Sebagai pembanding, mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) justru mengalami kenaikan harga sekitar 2 persen pada periode yang sama.
ICCT menilai, penurunan harga baterai memang menjadi faktor utama yang menekan biaya produksi kendaraan listrik.
Namun, produsen tidak sepenuhnya meneruskan penghematan tersebut kepada konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih murah.
Sebagian besar efisiensi biaya justru dialokasikan untuk meningkatkan kualitas produk, seperti memperbesar kapasitas baterai agar jarak tempuh semakin jauh, meningkatkan performa kendaraan, menambah fitur keselamatan maupun teknologi, hingga menutup biaya riset dan pengembangan kendaraan generasi baru.
Fenomena lain yang menarik adalah harga rata-rata mobil listrik di pasar Jerman justru meningkat.
Pada 2020, harga rata-rata kendaraan listrik yang ditawarkan berada di kisaran 38.000 euro. Lima tahun kemudian, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 54.000 euro.
Kenaikan tersebut bukan disebabkan harga setiap model menjadi lebih mahal, melainkan karena pilihan model kendaraan listrik berkembang pesat, dari hanya 38 model menjadi 159 model.
Sebagian besar penambahan berasal dari segmen kendaraan menengah hingga premium yang memiliki banderol lebih tinggi.
Di sisi lain, pilihan mobil listrik berukuran kecil yang lebih terjangkau masih terbatas. Mobil mini dan small car hanya menyumbang sekitar 14 persen dari seluruh model BEV yang dijual selama periode penelitian.
Meski hasil studi ini berfokus pada pasar Jerman, temuan tersebut memberikan gambaran penting mengenai dinamika industri kendaraan listrik global.
Penurunan biaya baterai memang membuka peluang menghadirkan EV yang lebih kompetitif, tetapi tidak selalu berujung pada harga jual yang lebih murah.
Dalam banyak kasus, efisiensi tersebut justru dimanfaatkan produsen untuk menghadirkan kendaraan dengan jarak tempuh lebih jauh, teknologi yang lebih canggih, dan spesifikasi yang lebih tinggi sehingga nilai produk meningkat tanpa harus memangkas harga secara drastis.
Pewarta : Chairul Rohman
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.