gop-crypto.vip

Trump Tepati Ancaman, Puluhan Target Iran Digempur

Liputan6.com, Teheran - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap puluhan target di Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap pasukan AS di Yordania. Aksi saling serang tersebut kembali memanaskan konflik di Timur Tengah dan mengancam peluang negosiasi untuk mencapai perdamaian permanen.

Serangan itu menjadi operasi militer pertama AS dalam lebih dari lima hari terakhir. Aksi tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump berjanji akan menghantam Iran "dengan sangat keras" menyusul serangan Teheran terhadap pangkalan militer di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (30/7/2026), Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom) menyatakan pihaknya menyerang puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal, dan lokasi penyimpanan drone, dalam gelombang serangan yang berlangsung sekitar dua jam.

"Serangan itu bertujuan untuk semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran dan kelompok proksinya terhadap pasukan Amerika, pelayaran komersial, serta negara-negara Teluk tetangga," kata Centcom dalam pernyataannya.

Media pemerintah Iran melaporkan tiga orang mengalami luka-luka akibat serangan di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Provinsi Khuzestan di wilayah barat laut negara tersebut.

Di sisi lain, Yordania kembali melaporkan adanya rudal yang memasuki wilayah udaranya untuk hari kedua berturut-turut. Sementara itu, Kuwait menuduh Iran melakukan serangan yang menghantam sebuah bangunan hingga menewaskan satu orang. Kedua serangan tersebut diyakini merupakan bagian dari respons Iran terhadap serangan udara Amerika.

Meski ketegangan kembali meningkat, upaya diplomatik disebut masih terus berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan mediator utama terus berupaya membawa seluruh pihak kembali ke meja perundingan.

"Negosiasi antara para pihak masih berlangsung, terutama mengenai Selat Hormuz dan upaya deeskalasi," kata Andrabi kepada wartawan di Islamabad, Kamis.

Gelombang serangan terbaru terjadi setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi menggempur kelompok milisi yang didukung Iran di Irak pada Rabu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi dan enam penasihat Iran. Aksi itu kembali memicu konflik bersenjata antara AS dan Iran sekaligus meredupkan harapan agar jalur diplomasi kembali mendapat ruang.