gop-crypto.vip

Trump Kurangi Skala Latihan Militer AS-Korsel, Singgung Korut dan Iran

Korea Utara terus memperbesar persenjataan nuklir dan rudalnya sejak diplomasi tingkat tinggi antara Kim dan Trump kandas pada 2019.

Para pakar menilai Kim kemungkinan meyakini bahwa persenjataan yang lebih besar dapat memperkuat posisi tawarnya untuk mendapatkan lebih banyak konsesi dari AS dalam perundingan pada masa mendatang.

Pada Jumat (14/8), Korea Utara mengancam akan mengambil langkah tegas terhadap AS dan Korea Selatan, tanpa menjelaskan bentuk tindakan yang akan dilakukan.

Pyongyang menyebut latihan militer kedua negara sebagai latihan untuk perang agresif yang semakin memperburuk ketidakstabilan di kawasan.

Peringatan semacam itu merupakan retorika yang lazim dilontarkan Korea Utara menjelang latihan militer besar AS-Korea Selatan.

Para pakar mengatakan Korea Utara kerap menjadikan latihan militer kedua negara sebagai alasan untuk meningkatkan uji coba senjata. Langkah itu dilakukan untuk memodernisasi persenjataannya sekaligus memperkuat dukungan publik terhadap Kim.

Trump bertemu dengan Kim sebanyak tiga kali pada masa jabatan pertamanya untuk membahas program nuklir Korea Utara. Pertemuan terakhir keduanya berlangsung pada 2019.

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump beberapa kali menyatakan keinginan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Kim.

Pada September 2025, Kim mengatakan masih memiliki kenangan pribadi yang baik tentang Trump. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan kembali berunding jika AS menghentikan obsesi tidak masuk akalnya terhadap denuklirisasi Korea Utara.

Ini bukan pertama kalinya Trump berupaya menghentikan latihan militer AS-Korea Selatan.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump secara mengejutkan menyatakan akan menghentikan latihan perang tersebut dengan menyebutnya provokatif.

"Kami akan menghentikan latihan perang sehingga bisa menghemat banyak uang, selama perundingan ke depan berjalan sebagaimana mestinya," kata Trump kepada wartawan setelah bertemu Kim di Singapura pada 2018.