gop-crypto.vip

TPST Kebon Talo solusi pengelolaan sampah kota

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebutkan kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo sebagai salah satu solusi yang sangat signifikan dalam mengelola persampahan di wilayah tersebut.

"TPST itu dirancang memiliki daya tampung hingga 60 ton per hari, sehingga dapat mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA)," kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di sela kunjungan ke lokasi pembangunan TPST Kebon Talo di Kecamatan Ampenan bersama sejumlah pejabat terkait lainnya, Kamis.

Dari hasil pantauan pembangunan TPST, katanya, proyek strategis penanganan sampah yang dibangun di atas lahan seluas 1,48 hektare dengan anggaran Rp52,508 miliar itu dinilai berjalan sesuai jadwal.

Meskipun realisasi fisik baru 17,607 persen sejak kontrak 12 Juni 2026, namun pihaknya optimistis TPST Kebon Talo akan selesai sesuai target pada 31 Desember 2026.

Pasalnya, katanya, dari keterangan Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTB Dades Prinandes,  pengerjaan saat ini masih difokuskan pada infrastruktur utamanya terlebih dahulu.

Sementara persentase kemajuan pekerjaan sangat bergantung pada pengadaan peralatan. Pemasangan alat perangkat pengolahan sampah dijadwalkan mulai masuk pada sekitar bulan November 2026, sehingga progres signifikan akan terlihat setelah tahapan tersebut.

Baca juga: Bima masih melengkapi syarat teknis pembangunan TPST

Realisasi pekerjaan TPST itu sebagian besar pengadaan alat, sehingga meskipun kegiatan fisik baru 17,607 persen, setelah alat pengolahan sampah dipasang maka realisasi bisa langsung naik signifikan.

"Prinsipnya seluruh pekerjaan fisik infrastruktur ditargetkan dapat rampung pada 31 Desember 2026 dan mulai dimanfaatkan awal tahun 2027," katanya.

Wali kota mengatakan keberadaan TPST Kebon Talo akan menjadi pendukung operasional TPST Sandubaya yang saat ini memiliki kapasitas mengolah sampah sebanyak 30 ton per hari.

Karena itu keberadaan TPST tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah harian, namun sisa pengolahan atau residu dari TPST juga akan dioptimalkan agar bernilai ekonomis.

Residu tersebut rencananya dapat diolah dalam bentuk bahan bakar alternatif berkualitas tinggi atau SRF (solid recovered fuel).

Terkait dengan itu Pemkot Mataram juga akan merintis kerja sama dengan PLTU Jeranjang untuk memastikan residu sampah dapat dimanfaatkan secara optimal.

Terkait dengan kesiapan operasional secara menyeluruh, Wali Kota Mataram memperkirakan TPST Kebon Talo akan mulai beroperasi penuh pada awal tahun 2027.

"Untuk mengoptimalkan operasional, kami akan melakukan transfer pengetahuan atau edukasi serta membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPTD) khusus pengelola di lokasi agar tata kelola terintegrasi dengan baik," katanya.

Pewarta : Nirkomala
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026