Tokoh pers Aceh, ayahanda Wamen Komdigi berpulang ke rahmatullah
Banda Aceh (ANTARA) - Tokoh pers Aceh, pendiri media Harian Serambi Indonesia yang juga Ayahanda dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria, H Sjamsul Kahar telah berpulang ke Rahmatullah.
Sjamsul Kahar meninggal dunia pada Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Kabar meninggalnya Sjamsul Kahar beredar luas di sejumlah grup whatsapp jurnalis Aceh. "Innalillahi Wainnailaihi Rajiun. Semoga amal ibadah almarhum diterima disisi Allah SWT. Beliau orang yang sangat baik," kata Ketua AJI Banda Aceh, Reza Munawir.
Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 80 tahun setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit pemerintah Aceh tersebut sejak 13 September 2026 lalu.
Almarhum bakal dikebumikan di TPU Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
Sosok Sjamsul Kahar
Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh tiga periode (1985–1991, 1991–1995 dan 1995–1999) ini merupakan putra kelahiran Sigli, 9 Oktober 1945. Selama puluhan tahun, hidupnya didedikasikan untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.
Namanya dikenal luas sebagai salah satu tokoh sentral dan perintis berdirinya Harian Serambi Indonesia, bersama sahabatnya, almarhum M Nourhalidyn (1943–2000).
Ia mendedikasikan hidupnya untuk membangun dan membesarkan media cetak kebanggaan masyarakat Aceh tersebut hingga menjadi pilar informasi yang kredibel hingga hari ini.
Pengabdiannya melewati situasi yang tidak mudah. Masa konflik Aceh, kerja jurnalistik menghadapi tekanan dan ancaman. Pada 1999, rumah Sjamsul Kahar pernah diserang bom molotov. Bahkan, ia menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.
Tak hanya itu, salah satu bagian terpenting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.
Bencana itu menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia. Puluhan pekerja media menjadi korban atau hilang. Surat kabar yang menjadi sumber informasi masyarakat Aceh itu sempat berhenti terbit.
Enam hari setelah musibah dahsyat itu, pada 1 Januari 2005, koran itu kembali terbit dengan sumber daya yang sangat terbatas dan menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.
Bagi keluarga, Sjamsul Kahar adalah seorang ayah. Tetapi bagi pers, ia adalah bagian dari generasi yang membangun fondasi jurnalistik Aceh.
Hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya, perhatian Sjamsul Kahar terhadap sejarah pers dan profesi wartawan tetap terlihat. Pada 2023, ketika PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, ia mengingatkan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.
Kini, kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan duka. Jejak kerjanya mengingatkan satu hal. Bahwa Pers hadir untuk menjaga agar masyarakat tetap memiliki informasi, bahkan ketika keadaan membuat hampir semua hal lain terhenti.
Baca juga: Wamen Nezar: Krisis media jadi ancaman bagi kualitas informasi publik
Baca juga: Nezar: Permainan tradisional jadi jeda buat anak dari ruang digital
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.