Tesla Ungkap Alasan di Balik Kenaikan Harga Cybertruck
Liputan6.com, Jakarta - Tesla kembali menaikkan harga Cybertruck. Truk listrik futuristik dengan desain ekstrem dan bodi baja tahan karat tersebut kini dibanderol mulai US$74.990 atau setara Rp 1,16 miliar.
Kenaikan ini menjadi yang kesekian kalinya terjadi pada jajaran Cybertruck. Sebelumnya, varian standar tersebut dibuka dengan harga US$59.990 atau Rp 929 jutaan, sebelum naik menjadi US$69.990 atau Rp 1,08 miliar.
Mengutip ArenaEV, Jumat (28/8/2026), kenaikan harga juga terjadi pada varian Premium All-Wheel-Drive (AWD). Harganya meningkat dari US$79.990 atau Rp 1,23 miliar menjadi US$84.990, setara kurang lebih Rp 1,31 miliar.
Sementara itu, varian tertinggi Tri-Motor Performance masih mempertahankan banderol US$99.990 atau Rp 1,54 miliar.
Kenaikan harga Cybertruck menjadi menarik karena terjadi ketika tren penjualan kendaraan tersebut justru tengah mengalami pelemahan.
Langkah Tesla ini dapat menjadi sinyal adanya perubahan strategi. Jika sebelumnya kendaraan listrik diarahkan untuk mengejar pasar massal dan volume penjualan tinggi, Cybertruck kini tampaknya mulai ditempatkan sebagai produk niche dengan positioning lebih eksklusif.
Desain futuristik dan penggunaan bodi baja tahan karat yang menjadi ciri khas Cybertruck memang membuat kendaraan ini berbeda dari truk pikap konvensional. Namun, karakter tersebut sekaligus membuatnya memiliki daya tarik yang lebih terbatas di pasar.
Alih-alih menurunkan harga untuk mengejar volume, Tesla justru menaikkan banderol. Strategi tersebut mengindikasikan perusahaan mulai mengutamakan margin keuntungan per unit dibandingkan volume penjualan.
Dengan menyasar konsumen kelas atas yang relatif tidak sensitif terhadap perubahan harga, Tesla berupaya menjaga keuntungan dari setiap unit Cybertruck yang terjual. Strategi ini juga dapat membantu mengompensasi tingginya biaya produksi dan pemanfaatan kapasitas pabrik yang belum optimal.
Perubahan positioning tersebut juga terlihat dari peran Cybertruck dalam portofolio kendaraan listrik Tesla.
Model 3 dan Model Y diperkirakan tetap menjadi tumpuan Tesla untuk pasar kendaraan listrik dengan volume besar. Sementara itu, Cybertruck dapat difokuskan sebagai halo car, yakni produk yang berfungsi memperkuat citra, karakter, dan daya tarik sebuah merek.
Dengan posisi tersebut, Cybertruck tidak harus terjual dalam jumlah besar untuk memberikan kontribusi strategis bagi Tesla. Keunikan desain dan teknologi yang ditawarkan menjadi bagian dari nilai jualnya.
Di sisi lain, kenaikan harga Cybertruck terbilang kontras dengan kondisi penjualannya.
Tesla disebut memiliki kapasitas produksi Cybertruck hingga 125.000 unit per tahun. Namun, realisasi penjualan diperkirakan hanya sekitar 20.000 unit pada tahun lalu.
Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan sekitar 39.000 unit pada 2024. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kapasitas produksi dan permintaan pasar.