gop-crypto.vip

Terjadi Saat Elektabilitas Prabowo Turun, Ada 'Bayang-bayang' di Balik Safari dan Gelar Raja Jokowi

Rabu, 05 Agustus 2026, 03:40 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Manuver Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi sorotan usai dirinya mendapatkan gelar raja saat melakukan safari politik ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Politikus itu kini dinilai tengah membangun fondasi kekuatannya di tengah turunnya elektabilitas dari Prabowo Subianto.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli mengatakan rangkaian safari  beserta berbagai simbol penghormatan yang diterima oleh mantan presiden tersebut perlu dicermati secara politik bahkan diwaspadai oleh Prabowo.

Baca Juga: 3 Kepentingan di Balik Polemik Ijazah Jokowi, Salah Satunya 'Tak Istirahat usai Bukan Lagi Presiden'

"Mengapa Jokowi masih main raja-rajaan? Mengapa Presiden Prabowo harus waspada?" ujar Guntur, dikutip Rabu (5/8/2026).

Guntur menyoroti polemik yang muncul setelah beredar narasi mengenai penobatan politikus itu sebagai Raja Timor. Diketahui, Raja Amanuban, Pina Ope-Nope membantah pengangkatan Jokowi. Ia menjelaskan bahwa kehadiran para raja adat disebut hanya sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, bukan prosesi pengangkatan ataupun penobatan raja.

Bagi Guntur, sendiri klarifikasi tersebut penting karena dinilai membantah narasi yang berkembang di ruang publik mengenai legitimasi simbolik yang diperoleh Jokowi.

"Bantahan ini penting karena membongkar pola lama manipulasi mereka dan termul yang sibuk membungkus kunjungan biasa dia dengan narasi kebesaran simbolik," ujarnya.

Safari Jokowi menurutnya juga tidak bisa dimaknai sebagai upaya memperkuat pemerintahan dari Prabowo. Menurutnya, yang justru terjadi adalah sebaliknya karena safari itu terjadi saat elektabilitas pemerintah saat ini turun.

"Safari Jokowi ke berbagai daerah tidak bisa dibaca sebagai dukungan kepada pemerintah Prabowo. Justru sebaliknya, di tengah kepuasan publik terhadap pemerintah yang tengah menurun, manuver dia lebih tepat dibaca sebagai konsolidasi basis massa untuk kelompoknya sendiri, bukan untuk menopang Prabowo," katanya.

Ia juga berpendapat bahwa berbagai simbol penghormatan yang diterima dapat menjadi modal politik jangka panjang. Hal tersebut menurutnya merupakan sesuatu yang disiapkan oleh Jokowi.

Guntur juga mengaku telah lama mengingatkan mengenai potensi pengaruh politik politikus itu setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Karena itu, ia meminta pemerintah saat ini membaca setiap manuver politik pendahulunya secara hati-hati.

"Saya sudah mengingatkan hal ini beberapa bulan yang lalu. Bayang-Bayang Jokowi tidak akan pernah benar-benar pergi dari panggung kekuasaan. Presiden Prabowo perlu membaca gerakan itu bukan sebagai bantuan, melainkan sebagai bayang-bayang yang terus mengintai posisi dia sendiri," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan wejangan sekaligus peringatan untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menekankan pentingnya partai tersebut untuk "napak tanah" alias menjaga kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan politik menuju Pemilu 2029.

Baca Juga: Bau Racun di Balik Kematian Penjaga Rumah Febrie Adriansyah, Penasihat Kapolri: Jejak Seperti Itu...

"Jangan sampai kita kehilangan daya pijak, yaitu dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat kita. Kita harus hadir secara konsisten. PSI harus mampu menghadirkan manfaat yang nyata yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat," ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar