Target BMW Astra Naik di GIIAS 2026, Ini Pendorongnya
Liputan6.com, Jakarta - BMW Astra memasang target ambisius pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Dealer resmi BMW tersebut menargetkan penjualan hingga 400 unit selama pameran berlangsung, meningkat dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.
Optimisme tersebut didorong oleh ekspansi jaringan dealer BMW Astra yang kini memiliki lima outlet di wilayah Jabodetabek. Penambahan showroom baru di kawasan Mampang diyakini mampu mendongkrak kontribusi penjualan selama GIIAS 2026.
Operation Manager BMW Astra, Teguh Widodo mengatakan, target yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan bertambahnya kapasitas layanan perusahaan.
"Target 400 unit itu untuk tahun ini. Tahun lalu belum sampai angka tersebut. Salah satu alasan target kami naik karena sekarang BMW Astra memiliki tambahan satu outlet baru di Mampang," ujar Teguh kepada Liputan6.com, Senin (27/7/2026).
Sebelumnya, BMW Astra memiliki empat dealer yang berlokasi di Cilandak, Sunter, Pluit, dan Serpong. Dengan hadirnya outlet Mampang, perusahaan optimistis dapat menjangkau lebih banyak konsumen premium di Jakarta.
Dari sisi produk, BMW X1 masih menjadi model dengan kontribusi penjualan terbesar di jaringan BMW Astra. SUV premium kompak tersebut tetap menjadi pilihan utama konsumen, diikuti BMW Seri 3 dan BMW Seri 5 yang mulai menunjukkan tren permintaan positif.
"Masih X1. Seri 5 juga mulai bagus, karena konsumen sudah mulai melirik lagi. Jadi komposisinya X1, Seri 3, lalu Seri 5," jelas Teguh.
Sementara itu, penjualan mobil listrik BMW masih memberikan kontribusi yang relatif kecil. Namun, kondisi tersebut bukan disebabkan rendahnya minat pasar, melainkan keterbatasan pasokan unit.
"Hampir semuanya masih kendaraan bermesin bensin. Mobil listrik kami sangat terbatas, sehingga kontribusinya masih kecil," katanya.
Di tengah target penjualan yang meningkat, BMW Astra mengakui kondisi ekonomi menjadi salah satu tantangan terbesar, khususnya di segmen kendaraan premium.
Menurut Teguh, konsumen kelas atas masih memiliki daya beli yang kuat. Namun, banyak di antaranya memilih menunda pembelian karena lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
"Kami tahu konsumen luxury di Indonesia masih banyak. Bukan tidak punya uang, tetapi mereka sedang menahan pembelian. Tugas kami adalah meyakinkan bahwa sekarang adalah momen yang tepat untuk membeli mobil," ungkapnya.