Tanda Pikun Terdengar Jelas dari Suara Bicara yang Terdengar Berbeda
Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan pada suara seseorang, entah itu nada yang berubah, volume yang mengecil, atau bicara yang mulai tidak jelas, dapat menjadi tanda awal penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir, bahkan bertahun-tahun sebelum gejala utamanya muncul. Temuan ini berasal dari penelitian besar yang melibatkan lebih dari 833 ribu orang berusia 50 tahun ke atas, dipublikasikan di jurnal Journal of Voice.
Peneliti dari Universitas Drexel, Amerika Serikat, meneliti hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan risiko terjadinya penurunan fungsi kognitif serta demensia. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengalami perubahan suara tanpa disertai gangguan pendengaran tetap memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding mereka yang hanya mengalami gangguan pendengaran saja.
Mereka yang mengalami gangguan suara saja memiliki peluang 58 persen lebih besar mengalami penurunan kemampuan berpikir pada masa depan. Jika gangguan suara disertai juga dengan gangguan pendengaran, risikonya meningkat lebih dari dua kali lipat, yaitu 104 persen. Secara keseluruhan, semua orang yang mengalami gangguan suara memiliki risiko naik sebesar 29 persen, sedangkan yang hanya mengalami gangguan pendengaran naik sebesar 27 persen.
Robert Sataloff, ketua tim peneliti, menjelaskan bahwa suara yang berubah dapat menjadi tanda yang berharga untuk dideteksi lebih dini.
"Sangat penting disadari bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran justru berada dalam risiko yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya kehilangan pendengaran," ujarnya, seperti dikutip oleh Science Alert, Rabu (30/9/2026).
Para ilmuwan memperkirakan hubungan ini terjadi karena kesulitan berbicara membuat seseorang makin jarang berkomunikasi dengan orang lain. Percakapan dan interaksi sosial padalah adalah cara alami menjaga otak tetap aktif. Ketika seseorang makin diam karena suaranya berubah atau terasa sakit saat berbicara, stimulasi yang diterima otak pun berkurang secara perlahan.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan bahwa gangguan suara secara langsung menyebabkan demensia. Perubahan suara dan penurunan daya ingat dapat berasal dari akar masalah yang sama, atau keduanya saling memengaruhi secara tidak langsung. Namun demikian, suara yang berubah kini dapat menjadi salah satu tanda peringatan yang mudah dideteksi sejak dini.
Tim peneliti menyarankan agar orang yang menyadari adanya perubahan pada suaranya segera berkonsultasi ke dokter spesialis THT. Pemeriksaan tersebut dapat disertai dengan penilaian fungsi kognitif lebih dini, sehingga langkah pencegahan dapat diambil sejak awal. Gangguan suara sendiri banyak yang masih dapat diobati, dan penanganan tersebut sekaligus dapat membantu menjaga kesehatan otak.
Artinya, perubahan halus pada suara bukan sekadar perubahan fisik biasa. Itu bisa menjadi sinyal dari dalam tubuh yang layak diperhatikan sehingga muncul kesempatan untuk bertindak lebih cepat, sebelum masalah yang lebih serius datang.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]