Taman Proklamator, Titik Nol Kemerdekaan Indonesia
Jakarta -
Ada satu tempat di Jakarta yang mungkin terlihat seperti taman biasa. Namun, siapa sangka kawasan ini menjadi saksi salah satu momen paling penting dalam sejarah Indonesia. Namanya Taman Proklamator.
Lokasinya berada di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Dulu, kawasan ini merupakan rumah Sukarno yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Rumah tersebut ditempati Sukarno sejak masa pendudukan Jepang dan kemudian menjadi lokasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Pada Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, Sukarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks proklamasi di halaman rumah tersebut. Setelah itu, bendera Merah Putih yang dijahit Fatmawati dikibarkan dalam upacara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, rumah yang menjadi saksi detik-detik kemerdekaan itu kini sudah tidak ada. Rumah tersebut dibongkar pada Agustus 1960 atas perintah Sukarno. Alasan pasti pembongkarannya hingga kini tidak diketahui secara jelas. Kini, lokasi bekas rumah tersebut berubah menjadi kawasan Taman Proklamator yang menyimpan sejumlah monumen untuk mengingat peristiwa bersejarah itu.
Penasaran seperti apa tempatnya sekarang? detikTravel pun langsung menyambangi Taman Proklamator Selasa (18/8/2026) lalu. Saat berada di sana, detikTravel mendapat penjelasan lengkap dari petugas Pamdal bernama Simon.
Mau Mampir? Ini Jam Buka dan Gratis
Taman Proklamator bisa menjadi pilihan untuk menikmati ruang terbuka sekaligus napak tilas sejarah tanpa perlu merogoh kocek. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Taman ini buka Selasa-Jumat pukul 06.00-18.00 WIB.
Sementara itu, setiap Senin taman ditutup untuk pemeliharaan. Namun, jika hari Senin bertepatan dengan hari libur nasional, taman tetap dibuka untuk umum. Lokasinya juga cukup mudah dijangkau dengan transportasi umum.
Halte terdekat adalah Halte Taman Proklamator 2 yang berada tepat di depan pintu masuk taman.
Begitu Masuk Langsung Ketemu Jejak Sejarah
Begitu masuk, pengunjung akan menemukan sejumlah monumen yang menyimpan cerita. Bukan cuma tempat untuk berfoto, setiap sudutnya punya kaitan dengan perjalanan Proklamasi. Salah satunya adalah Tugu Petir. Monumen ini menandai titik tempat Sukarno berdiri ketika membacakan teks Proklamasi, yang ditemani oleh Moh Hatta.
Di bagian atasnya terdapat simbol halilintar atau petir. Simbol tersebut menggambarkan suara Bung Karno yang menggelegar ketika menyampaikan Proklamasi kepada masyarakat. Tugu ini memiliki tinggi 17 meter, angka yang sengaja dikaitkan dengan tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia.
Di bagian bawahnya juga terdapat penanda yang menyebut bahwa di titik tersebut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Berjalan sedikit dari Tugu Petir, ada tugu berbentuk obelisk yang menjadi salah satu monumen paling awal di kawasan ini. Tugu tersebut dibangun pada 1946 untuk memperingati satu tahun Republik Indonesia atas prakarsa Ikatan Wanita Djakarta. Pada masa awalnya, tugu ini dikenal sebagai Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia.
Pada bagian tugu terdapat tulisan yang berkaitan dengan peringatan satu tahun Republik Indonesia serta elemen yang menggambarkan naskah Proklamasi dan peta Indonesia. Bagian lain yang tak boleh dilewatkan adalah Monumen Proklamator Sukarno-Hatta.
Dua patung perunggu Sukarno dan Mohammad Hatta berdiri berdampingan dengan posisi yang dibuat berdasarkan dokumentasi ketika Proklamasi dibacakan. Di belakang kedua patung tersebut terdapat deretan 17 pilar yang berkaitan dengan tanggal Proklamasi.
Sementara bagian depan memiliki 5 pilar yang dikaitkan dengan tahun kemerdekaan di mana pada bagian naskah tertulis angka 05 yang merujuk pada sistem penanggalan Jepang tahun 2605 yang berlaku saat itu. Di area taman, juga terlihat beberapa batu yang ternyata merupakan bagian dari fondasi asli rumah Sukarno yang dibiarkan tersebar agar menunjukkan seberapa luas rumah pada waktu itu.
Selain itu, sempat viral sebuah air di area taman yang sudah terbukti bisa langsung diminum. Dulunya, air itu adalah air sumur. Namun saat ini, sumur tersebut sudah tidak ada dan diganti hanya dengan menggunakan keran dan pipa.
Masih ada satu bagian yang mungkin tidak langsung terlihat oleh pengunjung. Di dalam kawasan taman terdapat bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat beristirahat petugas.
Di dalamnya tersimpan sejumlah foto lawas sebagai dokumentasi peristiwa sejarah, termasuk suasana upacara dan pembacaan Proklamasi. Kalau ingin melihat bagian ini, pengunjung bisa meminta bantuan petugas yang berjaga. Petugas dapat mengantarkan sekaligus menjelaskan foto-foto tersebut.
Bisa Ngapain Saja di Sini?
Meski punya nilai sejarah yang kuat, Taman Proklamator bukan kawasan yang hanya bisa digunakan untuk melihat-lihat monumen. Pengunjung juga bisa bersantai atau jogging di area taman.
Suasananya cukup cocok untuk sekadar duduk menikmati ruang terbuka sambil melihat berbagai monumen bersejarah. Kawasan ini juga dapat digunakan untuk kegiatan atau acara tertentu.
Namun, jika ingin mengadakan acara, penyelenggara perlu mengurus surat dan mengajukannya terlebih dahulu kepada Unit Pengelola Kawasan Monumen Nasional (UPK Monas). Setelah mendapat izin, kegiatan baru dapat dilaksanakan di kawasan taman.
Taman Proklamator bisa menjadi pilihan menarik bagi traveler yang ingin jalan-jalan sambil belajar sejarah. Kalau mau tahu kisah lengkap di balik setiap monumen, coba minta bantuan petugas PAMDAL yang berjaga karena mereka juga bisa menjadi tour guide dadakan untuk mengajak kamu menelusuri jejak Proklamasi di taman ini, loh!