gop-crypto.vip

Tak Perlu Bom Nuklir, Iran Punya Senjata yang Bikin Dunia Ketar-Ketir

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

05 August 2026 16:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Selat Hormuz telah berubah dari jalur perdagangan menjadi senjata ekonomi Iran. Letaknya yang sempit dan kekuatan militer Teheran di sekitarnya membuat negara tersebut mampu mengganggu pengiriman energi sekaligus menekan negara-negara tetangganya.

Sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Ketika pelayaran terganggu, pasokan energi tersendat, biaya angkut dan asuransi meningkat, sedangkan harga minyak serta gas dunia ikut terdorong naik.

Setelah perang berlangsung selama lima bulan, muncul pertanyaan, berapa lama Iran dapat mempertahankan kekuatan tersebut?

Negara-negara Teluk mulai membangun dan memaksimalkan jalur ekspor alternatif. Namun, analisis Hormuz Dependency Dashboard yang dikutip dari The Economist menunjukkan ketergantungan terhadap selat ini tidak dapat dihilangkan dalam waktu singkat.

Minyak mentah memang relatif mudah dialihkan melalui pipa. Sebaliknya, bensin, diesel, LNG, pangan, dan barang dalam peti kemas masih sulit dipindahkan ke rute lain. Kekuatan Iran terhadap harga energi dunia kemungkinan berkurang menjelang akhir dekade, tetapi pengaruhnya terhadap negara-negara Teluk dapat bertahan lebih lama.

Perdagangan melalui Selat Hormuz berdasarkan negara dan komoditasPerdagangan melalui Selat Hormuz berdasarkan negara dan komoditas Foto: The Economist

Minyak Mentah Mulai Memiliki Jalan Keluar

Sebelum perang, sekitar 16 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz setiap hari. Dari seluruh komoditas yang melintasi perairan tersebut, minyak mentah memiliki pilihan jalur alternatif paling banyak.

Arab Saudi telah memaksimalkan pipa East-West yang menghubungkan kawasan produksi di timur dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Alirannya meningkat dari sekitar 1 juta menjadi kapasitas penuh 7 juta barel per hari.

Namun, hanya hampir 5 juta barel per hari yang dapat langsung diekspor. Sisanya digunakan untuk memasok kilang minyak di pesisir Laut Merah.

Jumlah kapal tanker lewati Selat HormuzJumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC

Uni Emirat Arab (UEA) juga meningkatkan aliran pipa Habshan-Fujairah dari sekitar 1 juta menjadi 1,8 juta barel per hari. Pipa tersebut berakhir di Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz.

Sementara itu, sekitar 200.000 barel minyak Irak per hari mulai dialirkan menuju Turki melalui jaringan pipa yang sebelumnya tidak digunakan.

Meski seluruh jalur tersebut telah dimaksimalkan, The Economist memperkirakan sekitar 10 juta barel minyak per hari masih belum mempunyai rute ekspor pengganti.

Peta jaringan pipa minyak dan gas Timur TengahPeta jaringan pipa minyak dan gas Timur Tengah Foto: The Economist

Negara-negara Teluk karena itu mempercepat pembangunan jaringan baru. UEA merencanakan pipa tambahan berkapasitas 1,8 juta barel per hari yang ditargetkan selesai pada akhir 2027.

Irak ingin meningkatkan kapasitas salah satu jaringan pipanya menjadi 1 juta barel per hari dalam waktu satu tahun. Negara tersebut juga merencanakan pipa baru berkapasitas 2,5 juta barel per hari yang menghubungkan ladang minyak di selatan dengan rute menuju Yordania, Suriah, dan Turki.

Jika seluruh proyek berjalan sesuai rencana, tambahan 5 juta barel minyak per hari diperkirakan dapat menghindari Hormuz pada 2030. Namun, masih ada sekitar 5 juta barel per hari yang tetap belum memiliki jalur alternatif.

Keluar dari Hormuz, Masuk ke Jalur Rawan Lain

Pembangunan jaringan pipa tidak otomatis membuat ekspor energi lebih aman. Proyek di Irak masih menghadapi risiko keamanan, perselisihan lintas negara, dan keterlambatan pembangunan.

Minyak Saudi yang dikirim dari Yanbu menuju Asia juga harus melewati Selat Bab al-Mandab. Jalur sempit di dekat Yaman tersebut berada dalam jangkauan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Pengalihan minyak dari Hormuz bahkan membuat penggunaan Bab al-Mandab meningkat tajam. Ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui jalur tersebut melonjak setelah pipa East-West dioperasikan secara maksimal.

Ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui Bab al-MandabEkspor minyak mentah Arab Saudi melalui Bab al-Mandab Foto: The Economist

Pilihan lainnya adalah membawa minyak Saudi ke utara melalui Terusan Suez atau jaringan pipa Sumed di Mesir. Namun, rute ini juga tidak sepenuhnya aman. Pada 29 Juli 2026, sebuah drone menghantam kapal tanker di Damietta, pelabuhan yang berada dekat Terusan Suez.

Iran maupun kelompok sekutunya juga dapat menyerang jaringan pipa, pelabuhan, dan fasilitas baru yang dianggap mengurangi kekuatan Hormuz. Ancaman tersebut dapat mempertahankan tingginya biaya pembangunan, pendanaan, dan asuransi meskipun perang berakhir melalui perundingan.

Negara-negara Teluk pada akhirnya tidak benar-benar menghilangkan risiko. Mereka hanya memindahkan sebagian pengiriman dari satu jalur rawan menuju jalur rawan lainnya.

BBM dan LNG Masih Sulit Diselamatkan

Jika minyak mentah mulai memiliki sejumlah pilihan, kondisi berbeda terlihat pada produk olahan minyak.

Negara-negara Teluk mengirimkan hampir 5 juta barel bensin, diesel, dan bahan bakar lain melalui Hormuz pada tahun lalu. Hingga kini belum tersedia jaringan pipa darat yang dapat menggantikan jalur tersebut.

Arab Saudi memang merencanakan perluasan koridor East-West sebesar 2 juta barel per hari untuk mengangkut produk olahan. Namun, proyeknya masih berada pada tahap awal dan harus disertai perluasan Pelabuhan Yanbu.

Irak mencoba menggunakan jalan darat dengan mengirimkan minyak bakar ke Suriah melalui sekitar 1.000 truk per hari, melonjak dari hanya 10 truk sebelum perang. Cara tersebut jauh lebih lambat dan mahal dibandingkan pengiriman menggunakan kapal.

Persoalan paling rumit terdapat pada LNG yang sebagian besar diekspor oleh Qatar. Negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada Hormuz dan belum memiliki proyek jalur ekspor alternatif.

Qatar secara teori dapat membangun pipa gas menuju Oman. Namun, kapasitas yang dibutuhkan akan setara dengan jaringan Nord Stream yang dahulu mengalirkan gas Rusia ke Eropa.

Pembangunan pipa saja belum cukup. Qatar juga harus membangun kompleks pencairan gas baru di pesisir Laut Arab agar LNG dapat dimuat ke kapal tanpa melewati Hormuz. Proyek tersebut akan menelan biaya sangat besar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Negara importir memang dapat mencari pasokan dari kawasan lain. Harga energi yang tinggi diperkirakan dapat mendorong tambahan produksi minyak sebesar 2 juta-3 juta barel per hari dari Amerika dan wilayah lainnya. Kapasitas LNG global juga sedang mengalami ekspansi besar.

Tambahan pasokan itu perlahan akan mengurangi kemampuan Iran memengaruhi harga energi dunia. Namun, negara-negara Teluk tetap menghadapi masalah karena ketergantungan mereka terhadap Hormuz tidak hanya berkaitan dengan ekspor.

Hormuz Juga Menjadi Pintu Masuk Negara Teluk

Negara-negara Teluk membutuhkan Hormuz untuk mendatangkan pangan, obat-obatan, peralatan elektronik, bahan tambang, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Sekitar 95% kebutuhan biji-bijian negara Arab di kawasan Teluk berasal dari pemasok luar negeri. Hanya Arab Saudi yang memiliki fasilitas bongkar muat barang curah cukup memadai, tetapi kapasitasnya belum mampu memasok seluruh kawasan.

Memindahkan pengiriman dalam jumlah besar ke jalan darat juga tidak efisien. Satu kapal Panamax dapat membawa sekitar 60.000 ton serealia, setara dengan muatan sekitar 2.000 truk.

Impor barang curah negara-negara TelukImpor barang curah negara-negara Teluk Foto: The Economist

Jaringan kereta api regional dapat menjadi pilihan, tetapi proses pembangunannya membutuhkan biaya dan waktu besar. Jalur dari Laut Merah menuju Qatar diperkirakan dapat menelan sedikitnya US$25 miliar.

Negara-negara Teluk memang memiliki cadangan biji-bijian yang umumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama empat hingga enam bulan. Namun, tidak tersedia cadangan serupa untuk makanan segar, obat-obatan, dan barang elektronik.

Persoalan lain adalah keterbatasan pelabuhan. Jebel Ali di Dubai, pelabuhan peti kemas terbesar di kawasan dengan kapasitas hampir 20 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) per tahun, berada di dalam Hormuz.

Pelabuhan Jeddah yang berada di luar selat hanya memiliki kapasitas sekitar 7,5 juta TEUs. Pelabuhan tersebut juga telah beroperasi mendekati kapasitas penuh sebelum perang sehingga sulit mengambil alih seluruh pengiriman kawasan Teluk.

Iran Bisa Mendapatkan Berapa Banyak Uang?

Ketergantungan itu memberikan kesempatan kepada Iran untuk memungut biaya dari kapal yang melewati Hormuz. Seorang anggota parlemen Iran pada Juni mengeklaim Teheran menarik US$1,5 juta-US$2 juta dari setiap kapal.

Jika lalu lintas mencapai sekitar 70% dari kondisi sebelum perang, pendapatan Iran berdasarkan klaim tersebut dapat melampaui US$35 miliar per tahun. Namun, jumlah itu dinilai tidak realistis untuk dipertahankan.

Tarif tinggi yang dipungut di tengah ancaman militer kemungkinan sulit berlaku ketika perang berakhir dan arus pelayaran kembali mendekati normal.

Rancangan aturan yang diajukan kepada parlemen Iran menawarkan skema lebih terukur. Tarif akan ditentukan berdasarkan volume dan nilai kargo, jenis kapal, serta negara asal pemilik atau penyewa kapal. Biayanya harus tetap lebih rendah dibandingkan ongkos menggunakan rute alternatif.

Usulan lain menetapkan tarif €3 per ton di perairan Iran dan €2 per ton di perairan internasional. Berdasarkan skema tersebut, pendapatan jangka panjang Iran diperkirakan lebih realistis berada pada kisaran US$2 miliar-US$3 miliar per tahun.

Pendapatan itu akan berkurang ketika jaringan pipa dan fasilitas alternatif bertambah. Namun, penurunannya tidak akan merata. Kapal minyak mentah akan lebih cepat memperoleh pilihan, sedangkan kapal LNG, produk BBM, dan barang curah kemungkinan tetap bergantung pada Hormuz selama bertahun-tahun.

Iran juga menghadapi dilema. Sistem tarif hanya dapat berjalan jika pelayaran cukup aman dan pembayarannya mudah dilakukan. Namun, Teheran mungkin perlu tetap mengancam kapal yang menolak membayar agar aturan bisa dipatuhi. Tindakan tersebut justru dapat merusak kesepakatan damai.

Karena itu, tujuan Iran tampaknya bukan sekadar meraih pendapatan sebesar-besarnya. Teheran juga ingin mempertahankan posisinya sebagai penjaga pintu Hormuz melalui sistem perizinan, layanan pelayaran, atau kerja sama pengelolaan perairan dengan Oman.

Jalur alternatif secara perlahan akan mengurangi ketergantungan dunia terhadap Hormuz. Kekuatan Iran terhadap harga energi global juga dapat melemah sebelum akhir dekade ini.

Namun, selama minyak, LNG, pangan, dan barang kebutuhan negara-negara Teluk masih melewati perairan tersebut, Iran tetap memiliki alat untuk menekan kawasan. Senjata Hormuz mungkin kehilangan sebagian nilainya, tetapi belum akan hilang dalam waktu dekat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)