Studi Temukan Perubahan Kimia Darah Seiring Kenaikan CO2 di Atmosfer - Investasi Hijau Katadata.co.id
Kenaikan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer mungkin tidak hanya mengubah iklim bumi. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Air Quality, Atmosphere, and Health menemukan perubahan pada kimia darah manusia yang berlangsung seiring dengan kenaikan kadar CO2 di atmosfer.
Diberitakan Science Daily, studi berjudul Changes in Human Blood Chemistry Associated with Rising Atmospheric Carbon Dioxide itu menganalisis data kesehatan sekitar 7.000 orang di Amerika Serikat yang dikumpulkan selama dua dekade, dari 1999 hingga 2020.
Hasilnya menunjukkan kadar bikarbonat dalam darah rata-rata meningkat sekitar 7 persen selama periode tersebut. Bikarbonat merupakan salah satu komponen yang membantu tubuh menjaga keseimbangan asam-basa dan mempertahankan pH darah.
Peneliti juga menemukan kadar kalsium dalam darah turun sekitar 2 persen dan fosfor sekitar 7 persen.
Perubahan tersebut berlangsung dalam periode yang sama dengan kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer. Temuan ini menunjukkan adanya pola yang perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui apakah kenaikan CO2 memang berperan dalam perubahan fisiologis manusia.
Kadar CO2 Makin Tinggi
Konsentrasi CO2 di atmosfer sebelum era industri berada di kisaran 280-300 bagian per juta atau parts per million (ppm). Angka ini menjadi titik pembanding penting karena manusia dan sistem biologisnya berkembang dalam kondisi atmosfer dengan kadar CO2 yang jauh lebih rendah dibandingkan saat ini.
Konsentrasi CO2 atmosfer kini telah menembus 400 ppm. Dalam satu dekade terakhir, kadarnya meningkat rata-rata sekitar 2,6 ppm per tahun. Pada 2024 saja, konsentrasi CO2 bertambah 3,5 ppm.
Kenaikan ini membuat tubuh manusia kini terpapar kadar CO2 atmosfer yang lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum era industri.
Ahli geosains lingkungan yang telah pensiun dan salah satu penulis studi Phil Bierwirth mengatakan bahwa perubahan yang ditemukan dalam penelitian terhadap populasi besar tersebut layak diperhatikan.
Dia mengatakan bahwa keseimbangan tubuh melibatkan sejumlah faktor, termasuk kadar CO2 di udara, pH darah, laju pernapasan, dan kadar bikarbonat dalam darah. Ketika kadar CO2 di udara meningkat, tubuh harus melakukan penyesuaian untuk mempertahankan keseimbangan tersebut.
"Karena kadar CO2 di udara sekarang lebih tinggi daripada yang pernah dialami manusia, tampaknya CO2 tersebut terakumulasi di dalam tubuh kita," kata Bierwirth, dikutip dari Science Daily.
Kekhawatirannya, "Jangan-jangan kita tidak akan pernah bisa beradaptasi (lagi), sehingga sangat penting untuk membatasi kadar CO2 di atmosfer," ujarnya, menambahkan.
Perlu Penelitian Lebih Lanjut, Pastikan Korelasi dan Dampaknya
Salah satu peneliti Alexander Larcombe mengatakan bahwa penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya satu ambang kadar CO2 yang ketika dilewati akan langsung menyebabkan gangguan kesehatan. "Kami tidak mengatakan bahwa orang akan tiba-tiba jatuh sakit ketika kita melewati ambang tertentu," ujarnya.
Tapi, studi menunjukkan kemungkinan adanya perubahan fisiologis secara bertahap pada tingkat populasi. "Dan hal itu perlu kita pantau sebagai bagian dari kebijakan perubahan iklim di masa depan," ujarnya.
Jika tren yang ditemukan dalam penelitian berlanjut, dalam waktu 50 tahun, kadar bikarbonat rata-rata dalam darah diproyeksikan mendekati batas atas kisaran sehat saat ini. Sedangkan kadar kalsium dan fosfor diproyeksikan mendekati batas bawah kisaran sehat pada akhir abad ini.
Anak-anak dan remaja dinilai sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena mereka masih dalam tahap perkembangan dan akan mengalami paparan terhadap kadar CO2 yang lebih tinggi selama sebagian besar hidupnya.
Karena itu, peneliti merekomendasikan pemantauan jangka panjang pada kadar CO2 di atmosfer dan penanda biologis manusia.