Studi Temukan Pengguna Keranjang Belanja AI Habiskan Uang 32 Persen Lebih Banyak
Bagikan:
JAKARTA - Pengguna keranjang belanja berbasis kecerdasan buatan atau AI tercatat mengeluarkan uang rata-rata 32 persen lebih banyak dibanding mereka yang memakai keranjang biasa, menurut sebuah studi baru.
CNET dikutip Jumat, 14 Agustus, menyebut temuan itu berasal dari penelitian Bayes Business School, City St. George’s, University of London, yang menggunakan data kunjungan belanja di sebuah jaringan supermarket di Jerman.
Peneliti mencatat 12.418 kunjungan selama satu bulan. Dalam 9.422 kunjungan, konsumen memilih menggunakan keranjang yang dilengkapi layar pintar berbasis AI.
Hasilnya, pengguna keranjang pintar membeli 25 persen lebih banyak barang dan menghabiskan waktu 23 persen lebih lama di dalam toko.
“Pengguna keranjang pintar dalam data kami membelanjakan lebih banyak, membeli lebih banyak, dan berada lebih lama di toko dibanding mereka yang tidak menggunakannya,” kata penulis utama studi Sabrina Gottschalk kepada CNET melalui surel.
BACA JUGA:
Layar pada keranjang pintar bisa memberi rekomendasi produk, menunjukkan lokasi barang di dalam toko, serta menampilkan daftar belanja digital.
Teknologi itu bisa membantu konsumen berbelanja lebih mudah atau cepat. Namun, peneliti juga melihat potensi layar tersebut digunakan untuk mengarahkan konsumen pada promosi atau produk tertentu.
Salah satu caranya disebut digital nudging, yakni desain digital yang mendorong pengguna mengambil pilihan tertentu.
Ada pula dark patterns, yaitu pola desain yang sengaja mengarahkan pengguna pada pilihan yang menguntungkan perusahaan, misalnya membeli barang atau menyerahkan data pribadi.
Contohnya, tombol “beli” dibuat jauh lebih besar dibanding tombol “batal”. Konsumen juga bisa dipersulit menyelesaikan transaksi jika tidak memberikan informasi pribadi untuk kepentingan pemasaran.
Penggunaan layar pintar pada keranjang belanja masih jarang ditemukan di supermarket Amerika Serikat. Namun, penerapannya mulai berkembang.
Instacart dan jaringan supermarket Weis Markets di Pennsylvania pada Juni mulai menghadirkan “Caper Cart” berbasis AI di sejumlah toko dan berencana memperluas penggunaannya tahun ini.
Studi tersebut juga mengamati kelompok yang disebut “pengguna super”, yakni konsumen yang berinteraksi dengan layar lebih dari 20 kali.
Mereka membeli jauh lebih banyak barang dan berada lebih lama di toko. Namun, uang yang dikeluarkan tidak lebih besar dibanding rata-rata konsumen.
Peneliti menilai pola itu bisa menunjukkan sebagian pengguna super merupakan “pembelanja hedonis”, yakni orang yang menikmati kegiatan berbelanja dan memakai layar pintar sebagai bagian dari pengalaman tersebut.
Ketika interaksi mereka dengan layar mencapai tingkat tertinggi, kelompok ini justru mulai membeli lebih sedikit barang dan mengeluarkan lebih sedikit uang.
Menurut peneliti, penggunaan layar sebagai hiburan bisa menimbulkan dampak yang justru tidak diinginkan peritel.
Meski pengguna keranjang pintar tercatat mengeluarkan uang lebih banyak, Gottschalk menegaskan studi tersebut tidak membuktikan keranjang berbasis AI menjadi penyebabnya.
“Satu hal penting adalah meski kami menemukan pola ini secara konsisten dalam data, kami tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat,” katanya.
Menurut Gottschalk, konsumen yang memilih menggunakan keranjang pintar sejak awal bisa saja memang berbeda dibanding mereka yang memilih keranjang biasa.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+