gop-crypto.vip

Siapa Sangka Tanaman yang Tumbuh di Rawa Ini Bisa Jadi Tas hingga Aksesori Bernilai Jutaan, Namanya Rumput Purun!

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:40 WIB

Jakarta, VIVA – Isu keberlanjutan kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak hanya soal mengurangi penggunaan plastik atau memilah sampah, pilihan terhadap material yang digunakan dalam produk sehari-hari juga menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga

Menariknya, material yang selama ini dianggap sederhana ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya adalah rumput purun, tanaman yang tumbuh alami di kawasan lahan basah Kalimantan Selatan dan telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai bahan anyaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Potensi tersebut menarik perhatian Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta. Melalui inisiatif yang dibangunnya, Alexandra berupaya mempertemukan keterampilan tradisional masyarakat dengan kebutuhan pasar modern, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para perajin perempuan.

Baca Juga

Perjalanan itu berawal ketika Alexandra mengunjungi Kalimantan Selatan pada 2025. Ia melihat para perajin memiliki keterampilan menganyam yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pasar yang konsisten dan memiliki nilai tambah.

Dari pengamatan tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan rumput purun menjadi berbagai produk fungsional yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

"Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh," ujar Alexandra, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Rumput Purun, Material Tradisional dengan Potensi Ekonomi

Selama ini, purun dikenal sebagai salah satu bahan alami untuk membuat berbagai kerajinan anyaman. Tanaman tersebut tumbuh di lingkungan basah, termasuk kawasan gambut dan rawa, serta dapat dipanen dalam siklus tiga hingga enam bulan.

Di balik pemanfaatannya sebagai bahan kerajinan, keberadaan purun juga berkaitan dengan ekosistem lahan basah yang memiliki fungsi ekologis penting.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lahan gambut, misalnya, menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan berperan dalam menjaga tata air. Ketika kawasan tersebut dikeringkan atau dialihfungsikan, keseimbangan ekosistem dapat terganggu dan risiko kebakaran meningkat.

Karena itu, pemanfaatan material lokal seperti purun menghadirkan perspektif menarik tentang hubungan antara ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Halaman Selanjutnya

Ketika tanaman yang tumbuh alami di sekitar masyarakat memiliki nilai ekonomi, keterampilan mengolahnya dapat menjadi sumber penghidupan tambahan. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk tetap memanfaatkan potensi alam tanpa harus mengabaikan keberlanjutan lanskap asalnya.