Setop Impor Singkong Dongkrak Harga Petani dan Buka Peluang Pasar Bioetanol |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kebijakan pemerintah menghentikan impor singkong dinilai berhasil mendongkrak harga di tingkat petani sekaligus membuka peluang pasar baru melalui pengembangan industri bioetanol. Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menyatakan harga singkong di sejumlah sentra produksi kini mencapai sekitar Rp2.400 per kilogram, menguat signifikan dibandingkan harga penetapan pemerintah sebelumnya.
Ketua Umum MSI Arifin Lambaga menyampaikan apresiasinya kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Presiden atas kebijakan yang memperkuat pasar singkong domestik. “Alhamdulillah, terutama di Lampung sebagai salah satu sentra produksi singkong, harganya sudah bagus, sekitar Rp2.400 per kilogram. Kami berterima kasih kepada Pak Menteri dan Pak Presiden atas dukungan dan beberapa kebijakan, misalnya stop impor singkong,” kata Arifin setelah audiensi dengan Mentan di Jakarta, Rabu.
Arifin menegaskan bahwa berkurangnya pasokan impor membuat ruang pasar domestik semakin terbuka bagi produksi petani dalam negeri. Penguatan pasar ini, menurutnya, perlu diikuti dengan peningkatan produksi secara bertahap, terutama karena kebutuhan singkong diproyeksikan meningkat seiring dengan pengembangan industri bioetanol nasional.
Pasar Baru Skala Besar
Dorongan Mentan terhadap pengembangan bioetanol dinilai dapat menciptakan pasar baru dengan skala besar bagi komoditas singkong. Kebutuhan bahan baku yang meningkat akan memberikan peluang bagi petani untuk memperluas produksi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi singkong. “Ini kebutuhan yang besar. Ini pasar yang sangat besar bagi kita,” ujar Arifin.
Ia menyebut kebutuhan bioetanol untuk mendukung program pencampuran bahan bakar berpotensi mencapai skala besar. Untuk mendukung E20 saja, dibutuhkan sekitar 2,2 juta kiloliter bioetanol. MSI menyatakan kesiapan penuh mendukung program pemerintah menuju E20, bahkan hingga E50, dengan catatan ketersediaan bahan baku terjamin. “Kami siap 100 persen mendukung program E50. Yang penting bahannya,” tegas Arifin.
Kesiapan Lahan dan Kemitraan
Untuk mendukung kebutuhan bahan baku tersebut, MSI menyatakan siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong. Namun, Arifin menekankan bahwa pengembangan skala besar membutuhkan penguatan sektor hulu, terutama penyediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta skema pembiayaan.
Kebutuhan benih menjadi salah satu perhatian utama. Arifin menjelaskan satu hektare lahan membutuhkan sekitar 8.000 hingga 10.000 stek. Karena itu, pengembangan ratusan ribu hektare membutuhkan penyediaan benih dalam jumlah sangat besar. “Benihnya harus benih unggul yang bisa menghasilkan produktivitas singkong dan kadar pati yang baik. Karena yang untuk diolah menjadi bioetanol itu tergantung pada patinya,” jelasnya.
Di sisi industri, MSI juga telah menjalin komunikasi dengan sejumlah investor yang berminat mengembangkan pengolahan singkong menjadi bioetanol. “Kami sudah melakukan beberapa kontak dengan para investor, terutama di pengolahan singkong menjadi bioetanol. Beberapa investor sudah siap,” katanya.
Menurut Arifin, kepastian pasar atau off-taker menjadi salah satu faktor penting agar investasi bioetanol dapat segera direalisasikan. Kepastian pasar juga dibutuhkan untuk memastikan peningkatan produksi petani terserap oleh industri. MSI mengusulkan pengembangan industri bioetanol dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan sentra produksi singkong melalui pola kemitraan inti-plasma, sehingga petani dapat terlibat langsung sebagai pemasok bahan baku.
Arifin menilai pengembangan bioetanol dapat menjadi bagian penting dari hilirisasi singkong nasional. Selain membuka pasar baru, industri tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas keterlibatan petani dalam rantai industri energi. MSI berharap sinergi pemerintah, petani, asosiasi, investor, dan industri terus diperkuat agar kebijakan pengendalian impor berjalan beriringan dengan peningkatan produksi domestik dan pembukaan pasar baru melalui bioetanol. Sebelumnya, Kementerian Pertanian menetapkan harga singkong di angka Rp1.350 per kilogram.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara