Sentimen Geopolitik, Rupiah Bisa Melemah ke Rp18.160
Pada perdagangan Kamis sore, rupiah ditutup melemah 41 poin ke level Rp18.114 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.073 per USD. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat sekitar 15 poin sebelum akhirnya berbalik arah mengikuti penguatan indeks dolar AS.
Dari sisi eksternal, dolar AS mendapat dukungan setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar terhadap Iran menyusul serangan rudal Teheran ke pangkalan militer AS di Yordania.
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Pada saat yang sama, militer AS juga kembali menyerang Iran setelah jeda operasi sejak akhir pekan.
Ketegangan tersebut turut memicu gangguan terhadap jalur distribusi energi dunia. Penutupan jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global, ditambah blokade Laut Merah oleh kelompok Houthi, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75%.
Meski demikian, keputusan tersebut menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal Federal Open Market Committee (FOMC). Sebanyak tiga anggota bahkan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ketua The Fed, Kevin Warsh juga memberi sinyal bank sentral AS masih membuka peluang pengetatan kebijakan apabila tekanan inflasi kembali meningkat. "Pernyataan Ketua The Fed yang menegaskan komite siap bertindak apabila inflasi kembali meningkat turut menopang penguatan dolar AS," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Sejumlah ekonom memperkirakan ekonomi nasional hanya tumbuh sekitar 4,8-4,9%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.
Perlambatan tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, dampak kebijakan moneter yang lebih ketat, hingga masih tingginya ketidakpastian fiskal di dalam negeri. Sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diperkirakan hanya berada di kisaran 4,9-5,1% atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.
Menurut Ibrahim, pasar juga masih mencermati sejumlah isu domestik lain yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, mulai dari ketidakpastian suksesi kepemimpinan Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo, tekanan terhadap fiskal daerah, hingga hambatan ekspor mineral.
Selain itu, investor memilih bersikap hati-hati menjelang sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis dalam waktu dekat, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan, posisi cadangan devisa, pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
"Pelaku pasar saat ini cenderung menunggu rilis sejumlah indikator ekonomi domestik tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai arah perekonomian nasional sekaligus prospek kebijakan Bank Indonesia ke depan," tutur Ibrahim.