Sarjana RI Pilih Jadi ART di Taiwan, Gaji Rp10 Juta Sebulan
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di luar negeri meski memiliki latar belakang pendidikan sarjana.
Salah satunya Maha (31), lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang kini bekerja sebagai ART di Taiwan dengan penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan.
Maha berangkat ke Taiwan pada usia 27 tahun setelah sebelumnya bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember pada bidang sumber daya manusia (SDM) dan keuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, penghasilannya yang setara upah minimum regional (UMR) habis untuk membayar kos dan kebutuhan sehari-hari. Ia juga memiliki tanggungan utang orang tua.
"Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia melalui pesan di Threads, Rabu (23/9).
Kondisi tersebut membuat Maha mencari pekerjaan yang tidak mengharuskannya mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal. Ia kemudian memilih bekerja sebagai ART di Taiwan.
"Ku pikir-pikir kalau kerja lagi maunya yang enggak perlu bayar kos, dan kepikiran lah ke Taiwan. Nekat saja sih ini," ujarnya.
Keputusan tersebut juga dipengaruhi pengalaman keluarganya. Ibu, kakak, dan sejumlah anggota keluarga besar Maha sebelumnya pernah bekerja sebagai pekerja migran sehingga ia memiliki informasi mengenai proses bekerja di Taiwan.
Proses sejak pendaftaran hingga keberangkatan memakan waktu sekitar lima bulan. Setelah bekerja, Maha bertanggung jawab memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai milik majikannya, mencuci pakaian menggunakan mesin maupun secara manual, serta berbelanja ke pasar.
Ia juga sesekali membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya datang berkunjung.
Dari pekerjaan tersebut, Maha memperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan. Namun, ia harus menjalani rutinitas kerja yang panjang, mulai pukul 05.30 hingga sekitar 20.30.
Maha mengatakan terkadang dirinya begitu lelah hingga tertidur di kamar mandi. Di sisi lain, ia menyebut majikannya memberikan kamar tidur dan kamar mandi pribadi serta mengizinkannya menjalankan ibadah salat dan puasa.
Bekerja di Taiwan membuat Maha dapat menyisihkan sebagian penghasilannya. Kondisi tersebut berbeda dengan saat bekerja di Indonesia ketika pendapatannya habis untuk biaya hidup dan membayar utang keluarga.
Maha mengatakan seluruh utang keluarga yang menjadi tanggungannya berhasil dilunasi pada tahun pertama bekerja di Taiwan.
"Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," katanya.
Selain kondisi keuangan, Maha mengatakan pengalaman bekerja di Taiwan membuatnya beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda.
"Aku merasa mentalku benar-benar di-upgrade ketika kerja di Taiwan. Ketemu orang baru yang beda budaya dan bahasa," ujarnya.
Maha juga mengatakan dirinya tak menyesal meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi ART. Ia menilai pekerjaan tersebut tidak membuat pendidikan sarjananya menjadi sia-sia.
"Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya.
Menurut Maha, pendidikan yang ditempuhnya tetap berguna dalam membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Cerita Maha yang dibagikan melalui akun Threads miliknya mendapat tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial. Beberapa di antaranya mengaku memiliki pengalaman serupa, yakni bekerja sebagai ART di luar negeri meski memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja di bidang lain.
Salah satu pengguna mengaku merupakan lulusan D1 Administrasi di 2012. Ia sebelumnya bekerja sebagai kepala gudang sebelum memutuskan menjadi ART di Hong Kong.
"Aku D1 Administrasi lulusan tahun 2012, kerja udah jadi kepala gudang dan resign, lalu memilih jadi babu Hong Kong. Alhamdulillah udah enam tahun di majikan yang sama dan aku betah," tulis pengguna tersebut.
Pengalaman lain disampaikan pengguna yang mengaku sebagai lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.
[Gambas:Video CNN]
(del/sfr)