Saat Anak Muda Ubah Ambisi Diri Jadi Aksi Sosial |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjadi pemimpin pada masa sekarang tidak lagi melulu soal gelar, posisi tinggi, atau panggung untuk diri sendiri. Bagi generasi muda, kepemimpinan modern kini bermakna empati, kolaborasi, dan bagaimana keberadaan seseorang mampu membawa dampak nyata bagi orang-orang di sekitarnya.
Semangat itulah yang terasa dalam gelaran awarding Nutrifood Leadership Award (NLA) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (15/10/2026). Memasuki tahun ke-18 penyelenggaraannya, NLA kali ini mengusung tema “From Well-Being to We-Being”, sebuah ajakan bagi anak muda untuk melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar pencapaian pribadi menuju aksi kolaboratif yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Nutrifood Human Resources Manager, Dian Mariani, mengatakan program ini dirancang sebagai ruang aman sekaligus panggung tumbuh bagi anak muda untuk mengasah potensi diri sembari menebar manfaat. Melalui tema “Well-Being to We-Being”, pihaknya ingin mendorong para finalis untuk tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga membangun kolaborasi, menumbuhkan empati, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat. Landasan pemikiran ini menuntut peserta tidak sekadar berkutat pada ide di atas kertas, melainkan terjun langsung mengenali persoalan di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 20 finalis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ditantang untuk merancang dan mengeksekusi proyek sosial secara langsung. Mereka berkolaborasi erat dengan empat organisasi mitra yakni Rumah Harapan Indonesia (RHI), Scholars of Sustenance (SOS), Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN), dan Indonesia Mengajar. Didampingi oleh para mentor dari masing-masing organisasi, para mahasiswa mendapatkan ruang untuk bekerja sama, memecahkan masalah, serta memberikan kesempatan kepada anggota tim lain untuk mengambil peran kepemimpinan secara bergantian.
Selama proses pendampingan, komitmen dan kepekaan para mahasiswa mencuri perhatian para mentor. Founder Rumah Harapan Indonesia, Valencia Mieke Randa, mengapresiasi kejelian para finalis dalam menggali persoalan mendasar sebelum menyusun program.
Ia menceritakan bagaimana mahasiswa tidak hanya menjalankan arahan formal, tetapi juga mampu mengolah gagasan menjadi kegiatan nyata dalam waktu yang relatif singkat. Menurut Valencia, kepemimpinan sejati menuntut kemampuan mengenali akar masalah. "Leader itu bukan cuma memimpin, tetapi mencari akar dari masalah, lalu memberi solusi," ujar Valencia.
Pendekatan berbasis solusi tersebut terefleksikan secara nyata melalui berbagai inisiatif sosial yang dijalankan. Di bidang kesehatan, tim yang bekerja sama dengan Rumah Harapan Indonesia menggelar pemeriksaan kesehatan dan gizi bagi orang tua dan anak, sekaligus menyediakan konseling psikologis bagi para caregiver atau pendamping pasien.