S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di Level BBB dan Jangka Pendek A-2
Bagikan:
JAKARTA – S&P Global Ratings (S&P) kembali menegaskan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia untuk jangka panjang pada pada level BBB dengan peringkat jangka pendek A-2.
Dalam laporannya, S&P menjelaskan bahwa prospek stabil mencerminkan keyakinan bahwa pelemahan kondisi fiskal dan eksternal Indonesia hanya bersifat sementara.
Lembaga tersebut juga memperkirakan kondisi akan membaik seiring kenaikan harga komoditas dan kebijakan pemerintah yang semakin konsisten.
Menurut S&P, tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia dipengaruhi oleh tingginya harga energi, suku bunga global yang masih tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta bertambahnya utang.
Meski demikian, faktor-faktor tersebut dinilai masih dapat diimbangi melalui peningkatan harga komoditas dan efisiensi belanja pemerintah.
S&P juga menilai upaya pemerintah dalam memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan nilai ekspor, terutama apabila implementasi kebijakan berjalan secara efektif dan konsisten.
“Kami menegaskan kembali peringkat kredit kedaulatan Indonesia untuk jangka panjang 'BBB' dan jangka pendek 'A-2',” mengutip keterangan tertulisnya, Senin, 13 Juli.
Lembaga pemeringkat itu memperkirakan pendapatan pemerintah akan terus membaik sepanjang tahun ini, didukung oleh kenaikan penerimaan ekspor akibat membaiknya harga komoditas.
Selain itu, kebijakan yang bertujuan meningkatkan pendapatan dari sektor sumber daya dipandang akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang, terutama jika perubahan kebijakan menjadi lebih mudah diprediksi dan terlaksana dengan baik.
“Prospek stabil juga mencerminkan harapan kami bahwa pemerintah terus memandang batas defisit tahunan sebesar 3 persen sebagai jangkar kebijakan yang penting,” ungkapnya.
Meski demikian, S&P mengingatkan bahwa peringkat utang Indonesia dapat diturunkan apabila sejumlah indikator memburuk di antaranya jika utang pemerintah bersih meningkat secara konsisten lebih dari 3 persen terhadap PDB setiap tahun atau apabila pembayaran bunga utang pemerintah terus berada di atas 15 persen dari total pendapatan negara.
Risiko penurunan peringkat juga dapat muncul apabila penerimaan ekspor melemah secara struktural sehingga kebutuhan pembiayaan eksternal bruto terus melampaui gabungan penerimaan transaksi berjalan dan cadangan devisa yang tersedia.
Di sisi lain, S&P menyebut peluang kenaikan peringkat tetap terbuka apabila kondisi fiskal dan eksternal Indonesia menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan, salah satu indikatornya adalah defisit fiskal yang menyempit hingga sekitar 1 persen terhadap PDB, didukung peningkatan pendapatan negara, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.
Selain itu, perbaikan pada sektor eksternal yang mampu menurunkan utang luar negeri bersih hingga di bawah 50 persen dari penerimaan transaksi berjalan, serta menekan kebutuhan pembiayaan eksternal bruto di bawah 50 persen dari total penerimaan transaksi berjalan dan cadangan devisa, juga menjadi faktor yang dapat mendorong kenaikan peringkat.
Secara keseluruhan, S&P menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat dengan dukungan kebijakan makroekonomi yang relatif prudent serta tingkat utang pemerintah dan utang luar negeri yang lebih rendah dibandingkan banyak negara setara.
BACA JUGA:
Namun, lembaga tersebut juga mencatat masih terdapat sejumlah tantangan, seperti PDB per kapita yang relatif moderat, basis ekspor dan penerimaan fiskal yang belum luas, serta sektor keuangan domestik yang dinilai belum sedalam dan seterdiversifikasi negara-negara pembanding.
Adapun faktor-faktor tersebut masih menjadi kendala terhadap peningkatan kualitas profil kredit Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+