Rute Penguatan Ekonomi Indonesia |Republika Online

Oleh: Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi dan Ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF) FISIP Universitas Airlangga
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik kekhawatiran terhadap perkembangan ekonomi Indonesia, ada khabar yang menggembirakan. Bank Dunia, dalam laporannya East Asia & Pacific Economic Update October 2026 menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 dari 4,8 persen menjadi 5,2 persen. Angka proyeksi Bank Dunia ini sama dengan proyeksi yang dikemukakan Asian Development Bank (ADB) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang juga menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 5,2 persen.
Meskipun angka proyeksi yang dikemukakan lembaga-lembaga internasional di atas masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Namun demikian, semuanya lembaga itu meyakini kondisi resiliensi ekonomi Indonesia mulai membaik. Ketika harga minyak dunia naik melebihi 100 dolar AS per barel, suku bunga acuan The Fed juga naik dan imbasnya menyebabkan proses pelemahan rupiah, ternyata tidak banyak mempengaruhi arah perbaikan ekonomi yang dikembangkan pemerintah. Ketahanan ekonomi Indonesia tidak bergeming meski dihantam tekanan global akibat tensi geopolitik dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Indikator
Memasuki triwulan IV-2026, pemerintah meyakini kondisi perekonomian nasional akan berkembang positif di mana hal itu tercermin paling-tidak dari penguatan tiga indikator ekonomi. Ketiga indikator yang dimaksud yakni inflasi September 2026, neraca perdagangan Agustus 2026, dan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur September 2026 yang dirilis pada Kamis tanggal 1 Oktober 2026 kemarin.
Pertama, mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di bulan September 2026 tercatat 3,28 persen (yoy). Angka ini masih dalam sasaran nasional 2,5±1 persen atau 1,5–3,5 persen. Inflasi inti melandai menjadi 2,84 persen (yoy), sedangkan inflasi harga diatur pemerintah (AP) turun menjadi 3,25 persen (yoy), antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dan dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang relatif terbatas.
Memang saat ini komponen volatile food masih membutuhkan perhatian karena angka inflasinya sebesar 5,03 persen (yoy). Inflasi pangan ini terjadi karena dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.
Untuk mendukung agar masyarakat tidak tertekan oleh inflasi, pemerintah pada kuartal IV-2026 akan mengucurkan bantuan program sosial yang diharapkan dapat menjadi stimulus untuk memperkuat daya beli dan konsumsinya masyarakat. Nilainya mencapai Rp 31 triliun yang diperuntukkan guna memperkuat penyaluran program keluarga harapan (PKH) Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan pada Oktober–Desember 2026, serta percepatan SPHP beras medium melalui Perum Bulog. Upaya ini juga masih ditambah dengan gerakan pangan murah (GPM), optimalisasi cadangan beras pemerintah (CBP) dan kerja sama antardaerah (KAD), serta penguatan produksi melalui pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, dan Early Warning System.
Kedua, untuk neraca perdagangan, data yang ada memperlihatkan tren yang juga menggembirakan. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor Januari–Agustus 2026 secara umum positif, antara lain ditopang besi dan baja sebesar 19,18 miliar dolar AS atau tumbuh 4,88 persen, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya 17,75 miliar dolar AS atau tumbuh 6,57 persen, serta batubara 16,58 miliar dolar AS atau tumbuh 4,31 persen. Sementara itu, ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen, mencerminkan kontribusi hilirisasi terhadap kinerja ekspor.
Sedangkan untuk impor, bahan baku atau penolong dan barang modal mendominasi dengan masing-masing 133,38 miliar dolar AS dan 6,74 miliar dolar AS atau secara total mencapai 91,3 persen dari impor. Menurut data, peningkatan impor mesin atau peralatan mekanis 15,26 persen dan mesin/perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi dan investasi domestik.
Ketiga, untuk indikator ekonomi penguatan aktivitas manufaktur, bisa dilihat bahwa angka PMI Manufaktur September 2026 yang meningkat menjadi 52,4, dari sebelumnya 49,8 pada Agustus. Ini menandakan kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi. Pada September 2026, dilaporkan bahwa pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022. Di samping itu, penyerapan tenaga kerja, pembelian, dan persediaan input kembali meningkat. Di sisi biaya, inflasi harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan, sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan tetap tinggi.
Kualitas Pertumbuhan
Kalau melihat indikator yang ada, prospek ekonomi Indonesia di triwulan IV-2026 nanti boleh jadi sudah tepat pada rute yang diharapkan. Tanda-tanda bahwa kekuatan domestik, seperti sektor manufaktur yang ekspansif dan inflasi yang terkendali memberikan keyakinan bahwa fundamental kita kokoh menghadapi ketidakpastian global dan kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja.
Namun demikian, perlu diingat bahwa di balik optimisme dan indikator yang membaik seperti dipaparkan di atas, kita tidak boleh lalai. Tantangan inflasi pangan dan tekanan ekonomi global menuntut respons kebijakan yang tangkas, adaptif, dan berorientasi pada eksekusi riil. Jika pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha mampu menjaga ritme kerja sama ini secara harmonis, Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, melainkan mampu mengonfirmasi posisinya sebagai salah satu jangkar pertumbuhan ekonomi paling resilien di kawasan Asia Tenggara.
Cuma yang menjadi masalah bagaimana memastikan agar kita benar-benar dapat keluar dari situasi krisis dengan makin berdaya? Pertanyaan ini penting untuk dikaji lebih mendalam. Rute penguatan ekonomi yang sedang kita lalui adalah modal yang berharga, sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Penguatan ini tidak akan bermakna banyak jika fondasi ekonomi domestik kita masih rapuh dan pertumbuhannya tidak dirasakan oleh lapisan masyarakat terbawah.
Kunci untuk membangun resiliensi ekonomi Indonesia adalah pada kualitas pertumbuhan itu sendiri. Diakui atau tidak, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya inklusif. Ketimpangan ekonomi (rasio Gini) dan kesenjangan antarwilayah—khususnya antara Jawa dan luar Jawa—masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Industrialisasi yang terjadi saat ini cenderung padat modal dan teknologi, bukan padat karya. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja formal melambat, dan sektor informal yang rentan justru semakin gemuk.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi gejala deindustrialisasi dini. Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB masih belum sepenuhnya solid selama satu dekade terakhir. Padahal, tidak ada negara di dunia yang bisa melompat menjadi negara maju tanpa melalui fase industrialisasi yang matang. Sektor jasa yang tumbuh pesat saat ini sebagian besar didominasi oleh jasa bernilai tambah rendah, seperti sektor perdagangan eceran dan transportasi daring, yang tidak cukup kuat untuk menopang ekonomi dalam jangka panjang. Hanya dengan sinergi, konsistensi kebijakan, dan komitmen untuk meletakkan kesejahteraan manusia sebagai pusat dari setiap angka pertumbuhanlah kita akan dapat memastikan rute penguatan kita benar-benar tepat. Bagaimana pendapat Anda?