gop-crypto.vip

Rupiah Senin 5 Oktober 2026 Melemah ke Rp17.903, Ada Sentimen dari Konflik Timur Tengah

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:37 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Senin (5/10/2026). Rupiah turun 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.882 per dolar AS.

Baca Juga

Pelemahan rupiah terjadi ketika pasar mencermati sejumlah sentimen eksternal, mulai dari kenaikan harga minyak, peningkatan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga penguatan indeks dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan pergerakan, rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor global tersebut. Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Baca Juga

“Harga minyak tembus 102 dolar AS per barel, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 5,26 persen, indeks dolar naik menjadi 101,9 yang disebabkan oleh eskalasi konflik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut,” ujarnya. 

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Mengutip Sputnik, gerakan Ansarullah Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak.

Baca Juga

Ansarullah menyatakan serangan tersebut mengenai sasaran dan menyebabkan kebakaran. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari sentimen geopolitik yang turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan.

Selain konflik Timur Tengah, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS. Pelaku pasar menunggu rilis notulen pertemuan Federal Reserve atau The Fed yang sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) dalam pertemuan Federal Open Market Committee.

Rully memperkirakan notulen tersebut berpotensi menunjukkan sikap hawkish dari The Fed. Pasar juga memperkirakan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga satu hingga dua kali sampai akhir tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi tersebut dapat menjadi perhatian bagi pasar valuta asing karena kebijakan suku bunga AS berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS dan aset di negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis. Salah satunya adalah indeks keyakinan konsumen yang diterbitkan Bank Indonesia.

Halaman Selanjutnya

“Perkiraan data keyakinan konsumen September kemungkinan masih kuat namun lebih landai jika dibanding Agustus 116,8,” ungkap dia.