gop-crypto.vip

Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.590 Akibat Tekanan Eksternal

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya. 

Untuk perdagangan hari ini, Jumat (11/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak dua arah dengan kecenderungan melemah. "Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.540-Rp17.590," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (11/9/2026).

Jika konflik Timur Tengah kembali meningkat dan harga minyak bertahan di atas USD100 per barel, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Sebaliknya, meredanya konflik atau data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.

Baca Juga: Rupiah Ditaksir Menguat Lagi ke Rp17.480 di Tengah Cerahnya Data Ekonomi

Rupiah pada perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup melemah 36 poin ke level Rp17.547 per USD. Posisi tersebut turun dari penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.511 per USD.

Pergerakan rupiah terjadi ketika pasar global kembali menghadapi risiko dari konflik AS-Iran. Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz, sementara AS mengklaim telah menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

Risiko terhadap pasokan energi global ikut meningkat. Brent crude bahkan menembus level USD100 per barel pada perdagangan Kamis di tengah kekhawatiran gangguan pengiriman minyak melalui kawasan strategis tersebut.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi negara importir minyak, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus menambah tekanan terhadap biaya subsidi dan kompensasi energi apabila harga energi global bertahan tinggi.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai karena perkembangan geopolitik berpotensi menjaga permintaan terhadap aset dolar AS.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.540-Rp17.590," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (10/9/2026).

Proyeksi tersebut menempatkan level Rp17.590 per USD sebagai salah satu area yang perlu diperhatikan pasar pada perdagangan berikutnya. Jika tekanan eksternal kembali meningkat, rupiah berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran tersebut.

=====

Selain konflik Timur Tengah, pasar valuta asing juga tengah menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dapat menentukan arah kebijakan The Fed.

Data Producer Price Index (PPI) AS dijadwalkan keluar pada Kamis waktu AS, disusul data Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9/2026).

Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi yang dapat memengaruhi keputusan The Fed pada pertemuan 15-16 September 2026.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sekitar 60% pada pertemuan September.

Data pasar berbasis CME FedWatch menunjukkan probabilitas tersebut berada di sekitar 60%, sementara peluang suku bunga bertahan di level saat ini sekitar 40%.

Ekspektasi tersebut meningkat setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja pada Agustus, jauh di atas perkiraan ekonom. Tingkat pengangguran berada di 4,1%.

Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat jika inflasi kembali meningkat.

Namun, arah kebijakan The Fed belum sepenuhnya pasti. Sejumlah ekonom yang disurvei Reuters masih memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan September. Dengan demikian, data PPI dan CPI menjadi penting karena dapat mengubah ekspektasi pasar dalam waktu singkat.

Bagi rupiah, kenaikan ekspektasi suku bunga AS dapat menjadi sentimen negatif. Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik sehingga mendorong permintaan dolar di pasar global.

Sebaliknya, apabila data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi mereda karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat berkurang.

=====

Ibrahim menilai tekanan rupiah juga perlu dilihat dari dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi ekonomi domestik.

"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor, di antaranya kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi," ujarnya.

Harga minyak yang bertahan tinggi dapat memberikan tekanan ganda terhadap perekonomian. Di satu sisi, kebutuhan dolar untuk membayar impor energi dapat meningkat. Di sisi lain, pemerintah menghadapi potensi kenaikan beban subsidi dan kompensasi energi apabila harga energi domestik tetap ditahan.

Ibrahim mengatakan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko fiskal apabila kenaikan penerimaan negara tidak mampu mengimbangi tambahan belanja energi.

"Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik," jelasnya.

Tekanan tersebut menjadi semakin penting diperhatikan karena konflik di Timur Tengah tidak hanya menyangkut harga minyak, tetapi juga jalur perdagangan energi. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting pengiriman energi global sehingga gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan premi risiko di pasar minyak.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Pasar juga masih melihat sejumlah faktor domestik yang dapat menjadi penahan pelemahan.

Bank Indonesia juga terus melakukan operasi moneter untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing. Pada 10 September 2026, BI mencatat hasil lelang rollover Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) dengan tenor satu bulan pada kurs JISDOR ditambah premi Rp44 dan volume US$180 juta.

Sementara itu, JISDOR BI pada 9 September berada di Rp17.552 per USD. Posisi tersebut menunjukkan rupiah masih berada pada level yang relatif tinggi meski sempat menguat dalam beberapa hari perdagangan sebelumnya.

Karena itu, arah rupiah dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan tiga faktor utama, yakni eskalasi konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, dan hasil data inflasi AS.