Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp 17.919 per Dolar AS - Makro Katadata.co.id
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Rabu (14/10) pagi. Melansir data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.919 per dolar Amerika Serikat (AS).
Nilai tersebut menunjukkan pelemahan rupiah sebanyak 19 poin atau sekitar 0,11% dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.900 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong mengatakan, pelemahan mata uang garuda ini diperkirakan karena dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia, namun didukung oleh koreksi pada indeks dolar AS dan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST).
“Investor cenderung wait and see mengantisipasi data infasi AS malam ini,” kata Lukman saat dihubungi, Rabu (14/10).
Sementara itu, pengamat eknomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah yang sejalan dengan penguatan dolar AS ini dipengaruhi sejumlah faktor.
Dari sisi global, ia menyebut pasar saat ini tengah memperhatikan rilis data inflasi AS.
“Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang masing-masing dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/10).
Ia menuturkan, perkiraan angka CPI utama bulan September naik 0,6% secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,4% pada bulan sebelumnya. Lalu, inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,4.
Menanti Pidato Bos The Fed
“Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10) juga akan menjadi perhatian pasar,” katanya.
Dari domestik, Ibrahim menyebut para investor menyoroti kajian dari penyedia indeks global seperti Morgan Stanley, di mana pasar modal Indonesia masih mengalami pembekuan (freeze).
“Hal yang menjadi perhatian MSCI adalah transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI),” katanya.
Ibrahim mengatakan, pelaku pasar membaca gelagat sepertinya status pembekuan masih akan diberlakukan oleh MSCI dalam kajian edisi November.
“Sejumlah saham memiliki kepemilikan yang terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/HSC) sehingga harga yang terbentuk dipandang tidak mencerminkan transaksi sebenarnya/riil,” kata Ibrahim.