Rupiah berpotensi melemah jelang rilis data NFP AS
Rupiah berpotensi melemah jelang rilis data NFP AS
Rabu, 5 Agustus 2026 10:47 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Jakarta (ANTARA) - Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memperkirakan rupiah bergerak melemah karena pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS).
"Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve," kata Amru kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong peningkatan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.
Dari sentimen domestik, pasar mencermati rilis Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 yang menunjukkan defisit lebih kecil daripada perkiraan, serta tingkat inflasi Juli yang tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.
Amru menambahkan, perhatian investor pada hari ini tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.
"Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid," ujar Amru.
Dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak pada kisaran Rp17.950–Rp18.100 per dolar AS. Meskipun tekanan eksternal masih mendominasi, ruang pelemahan diprediksi relatif terbatas karena didukung oleh inflasi domestik yang terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang positif, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, Amru menekankan bahwa pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh hasil rilis PDB Indonesia dan data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan.
"Jika PDB Indonesia lebih baik daripada perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi," kata Amru.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026