Ribuan mahasiswa baru UMS belajar bahasa isyarat saat Masta PMB sebagai wujud kampus inklusif
Ribuan mahasiswa baru UMS belajar bahasa isyarat saat Masta PMB sebagai wujud kampus inklusif
Jumat, 11 September 2026 14:26 WIB
Suasana belajar bahasa isyarat saat Masta PMB sebagai wujud kampus inklusif. ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Momen menarik terjadi dalam gelaran Masa Ta’aruf Penyambutan Mahasiswa Baru (Masta PMB) hingga Ekspo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 2026 di Edutorium UMS.
Sekitar 8.195 mahasiswa baru UMS mengikuti kegiatan belajar bahasa isyarat yang dipandu instruktur ice breaking, Kamis (3/9), Alya Sausan Rahmadina, seorang Teman Tuli yang pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut bukan sekadar bagian dari rangkaian ice breaking. Pembelajaran bahasa isyarat menjadi salah satu upaya UMS untuk menanamkan nilai inklusivitas kepada mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan pentingnya akses komunikasi bagi Teman Tuli di lingkungan perguruan tinggi. Dalam kegiatan itu, Alya memandu para mahasiswa baru memperagakan bahasa isyarat dari I’M UMS yang berarti Islami, Mencerahkan, Unggul, Mendunia, Sustainable.
UMS membuka kesempatan bagi setiap individu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa membedakan kondisi dan latar belakang. Semangat tersebut juga diwujudkan dalam penyelenggaraan Masta PMB selama empat tahun terakhir dengan menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk membantu memastikan informasi dalam kegiatan dapat tersampaikan secara lebih aksesibel kepada Teman Tuli.
Fasilitasi JBI tersebut menjadi bagian dari upaya UMS dalam menghadirkan lingkungan pendidikan tinggi yang memberikan kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa Tuli. Dalam kegiatan berskala besar seperti Masta PMB, keberadaan JBI menjadi salah satu bentuk akomodasi yang mendukung keterlibatan mahasiswa dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Salah satu JBI yang terlibat dalam Masta PMB UMS 2026 Amartha Dian Bayu Putri menjelaskan pelibatan JBI menunjukkan komitmen inklusivitas UMS tidak berhenti pada deklarasi, tetapi mulai diwujudkan melalui penyediaan akses dan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.
“Menurut saya sudah sangat sejalan dengan deklarasi UMS sebagai kampus yang inklusif yang bisa memberikan akses dan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan Teman-teman disabilitas yang mau kuliah dan sedang berkuliah di UMS,” ujar Amartha, di sela kegiatan Ekspo UKM UMS.
Ia menilai dukungan penyelenggara terhadap JBI juga menjadi faktor penting agar proses penjurubahasaan dapat berlangsung dengan baik. Dalam pelaksanaan Masta PMB UMS 2026, Amartha menyebut dirinya berkoordinasi dan mendapatkan pendampingan dari M. Bagus Sudinadji, S.Psi., M.Psi., dosen Program Studi Psikologi UMS, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan selama menjalankan tugas penjurubahasaan.
Komitmen UMS terhadap penyediaan akomodasi bagi penyandang disabilitas memiliki landasan kelembagaan. UMS telah memiliki Peraturan Rektor Nomor 336/VIII/2025 tentang Akomodasi Penyandang Disabilitas di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Peraturan tersebut menjadi dasar bagi UMS dalam menyediakan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas.
Penguatan implementasi kebijakan tersebut kemudian dituangkan melalui Keputusan Rektor UMS Nomor 372/VIII/2025 yang menetapkan Direktorat Aset, Sarana, dan Prasarana (DASP) sebagai Unit Layanan Disabilitas UMS. Keputusan tersebut diterbitkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Rektor Nomor 336/VIII/2025 dan berlaku sejak ditetapkan pada 22 September 2025.
Dalam struktur layanan tersebut, Unit Layanan Disabilitas memiliki posisi penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas di lingkungan universitas. DASP secara resmi ditetapkan sebagai Unit Layanan Disabilitas UMS untuk mendukung pelaksanaan layanan dan pemenuhan akomodasi bagi penyandang disabilitas.
Penguatan ekosistem layanan disabilitas juga dilakukan melalui keberadaan Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) UMS. Lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya UMS dalam mengembangkan layanan, kajian, serta dukungan bagi penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.
Kehadiran JBI dalam kegiatan Masta PMB dan Expo UKM menjadi salah satu bentuk konkret dari semangat tersebut. Bagi mahasiswa baru, pengenalan kehidupan kampus bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi pintu awal untuk mengenal lingkungan akademik, organisasi, layanan kemahasiswaan, serta berbagai kesempatan yang tersedia di perguruan tinggi.
Karena itu, akses terhadap informasi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap mahasiswa dapat berpartisipasi secara setara. Kehadiran JBI dalam kegiatan kampus menjadi salah satu upaya untuk memastikan informasi dapat diterima oleh Teman Tuli sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan secara lebih optimal.
Amartha berharap praktik inklusivitas tersebut terus dikembangkan dan tidak terbatas pada kegiatan Masta PMB. Menurutnya, akses komunikasi bagi mahasiswa Tuli juga penting dihadirkan dalam proses pembelajaran serta berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik lainnya.
“Tidak hanya dalam Masta PMB saja, tetapi bisa memberikan akses dan akomodasi di kegiatan-kegiatan lainnya seperti saat kegiatan belajar mengajar dan seluruh civitas akademika diharapkan bisa mendapatkan informasi tentang sensitivitas disabilitas untuk lebih mendukung UMS sebagai kampus inklusif,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa inklusivitas tidak semata-mata berkaitan dengan penyediaan fasilitas. Lebih dari itu, inklusivitas membutuhkan kesadaran untuk memberikan kesempatan yang setara kepada setiap individu.
“Menurut saya penting dalam membangun kesadaran bahwa inklusivitas bukan sekadar fasilitas, tetapi memang memberikan kesempatan yang setara untuk siapapun,” ujarnya.
Ke depan, UMS dapat terus memperluas praktik tersebut melalui peningkatan kapasitas civitas academica mengenai sensitivitas disabilitas, pengembangan media pembelajaran yang aksesibel, serta penyediaan dukungan komunikasi sesuai kebutuhan mahasiswa. Amartha menyebut penggunaan gambar, tabel dengan tulisan singkat, serta penyediaan JBI dalam kegiatan pembelajaran dapat menjadi bagian dari strategi untuk membantu komunikasi antara dosen dan mahasiswa Tuli.
Dengan demikian, lanjutnya, kehadiran JBI dalam Masta PMB UMS tidak hanya menjadi fasilitas pendukung kegiatan, tetapi juga merepresentasikan upaya UMS dalam membangun budaya akademik yang membuka ruang partisipasi bagi semua. Semangat tersebut sejalan dengan arah kebijakan UMS dalam membangun lingkungan perguruan tinggi yang memberikan akses dan kesempatan pendidikan secara lebih setara bagi penyandang disabilitas.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.