RI Belajar dari Tiongkok Kembangkan SDM Demi Pacu Teknologi Pengolahan Sampah
Senin, 19 Oktober 2026 - 21:00 WIB
Jakarta, VIVA – Indonesia dinilai tidak cukup hanya menjadi pembeli teknologi dari negara lain, melainkan juga harus mampu membangun kemampuan sumber daya manusia (SDM) untuk menguasai, mengoperasikan, dan mengembangkannya secara mandiri.
Baca Juga
Hal itu disampaikan oleh Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, saat melakukan kunjungan kerja ke perusahaan pengembang teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy), Sanfeng Environment Group di Chongqing, Tiongkok.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dari kunker tersebut, Iftitah mengaku sempat mempelajari bagaimana Tiongkok membangun kemampuan teknologi pengolahan sampah melalui pendidikan, penelitian, kerja sama internasional, dan pengembangan industri secara bertahap.
Baca Juga
“Kita juga ingin kerja sama yang terjalin tidak hanya menjual produk, tetapi kita juga ingin masyarakat diberdayakan melalui transfer pengetahuan dan kemudian bisa untuk transfer teknologi,” kata Iftitah dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, pengalaman Sanfeng memberikan pelajaran mengenai bagaimana penguasaan teknologi membutuhkan investasi jangka panjang pada manusia. "Dan bukan sekadar pengadaan mesin dan pembangunan fasilitas," ujarnya.
Baca Juga
Sanfeng merupakan salah satu perusahaan Tiongkok yang mengembangkan teknologi pengolahan sampah perkotaan menjadi energi listrik. Mereka mulai mengadopsi teknologi dari Jerman sejak tahun 2000, kemudian secara bertahap mengembangkan kemampuan rekayasa, manufaktur peralatan, pembangunan fasilitas, serta pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pengolahan sampah.
Melalui proses penguasaan teknologi dan inovasi selama lebih dari dua dekade, Sanfeng kini mampu memproduksi berbagai peralatan inti dan mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah negara.
Iftitah mengaku menaruh perhatian pada perjalanan pengembangan perusahaan tersebut. Menurutnya, keberhasilan membangun teknologi modern tidak terjadi secara instan, tetapi membutuhkan proses belajar, konsistensi, dan kemauan mengembangkan kemampuan sendiri.
Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia, yang sedang berupaya memperkuat kemampuan industri nasional sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan. Bagi Iftitah, keberhasilan transfer teknologi bukan semata-mata ketika sebuah mesin berhasil dipasang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Melainkan ketika sumber daya manusia di dalam negeri semakin mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi tersebut," ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Kementerian Transmigrasi juga mempelajari proses pengolahan sampah menjadi energi listrik yang dikembangkan Sanfeng. Salah satu fasilitas yang dikunjungi memiliki kapasitas pengolahan sekitar 3.000 ton sampah per hari.
Halaman Selanjutnya
Melalui proses pengolahan termal, sampah dimanfaatkan untuk menghasilkan energi panas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi pengendalian gas buang dan penanganan residu pembakaran.