gop-crypto.vip

Rembuk Warga NU Kritik Arah Diplomasi PBNU, Soroti Program Humanitarian Islam

AKURAT.CO Forum Bersama Nahdliyin (Forbes) NU 26 menggelar Rembuk Warga NU se-Jabodetabek Seri 3 di kawasan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2026). Forum tersebut membahas arah diplomasi internasional Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tata kelola organisasi, hingga respons NU terhadap dinamika geopolitik global menjelang Muktamar Ke-35 NU.

Mengusung tema "NU di Tengah Badai Dunia Baru: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel", diskusi menghadirkan pengamat politik dari Australian National University (ANU) Prof. Greg Fealy, akademisi Prof. Hanief Saha Ghafur, serta Ketua Program Studi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara.

Dalam paparannya, Greg Fealy menilai sejumlah inisiatif diplomasi internasional yang digagas Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, seperti Religion Twenty (R20) dan Humanitarian Islam, belum memberikan dampak yang dirasakan secara langsung oleh warga Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput.

Menurutnya, berbagai agenda internasional tersebut perlu diimbangi dengan penguatan organisasi dan pelayanan kepada warga NU agar manfaatnya lebih nyata.

Baca Juga: Cak Imin Sebut PBNU Butuh Pemimpin Baru Jelang Muktamar Ke-35 NU

"Saya menilai tidak banyak karya dari inisiatif-inisiatif diplomatis Gus Yahya, terutama untuk NU. Lebih baik Gus Yahya lebih banyak memperhatikan usaha-usaha yang menitikberatkan pada kepentingan NU," kata Greg Fealy.

Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara diplomasi global dengan penguatan basis sosial-keagamaan di dalam negeri, mengingat NU memiliki jaringan pesantren dan warga yang sangat besar.

Selain mengkritisi arah diplomasi PBNU, Greg Fealy juga menyinggung penunjukan Holland Taylor yang pernah menduduki posisi strategis di lingkungan PBNU.

Menurutnya, figur tersebut dinilai belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai Islam, sejarah Islam di Indonesia, maupun perkembangan dunia Islam sehingga menimbulkan sejumlah pertanyaan di kalangan pengamat.

"Peranan Holland Taylor menurut saya sangat problematis di kepengurusan PBNU. Karena pemahaman beliau tentang Islam, isu Islam, sejarah Islam di Indonesia, dan juga dunia sangat tipis," ujarnya.

Forum diskusi tersebut juga membahas posisi Nahdlatul Ulama dalam merespons dinamika politik internasional, termasuk isu normalisasi hubungan dengan Israel yang belakangan menjadi perhatian publik.

Sejumlah peserta mendorong agar NU tetap menjaga independensi organisasi sekaligus memperkuat perannya sebagai representasi Islam moderat yang berpijak pada aspirasi warga Nahdliyin.

Baca Juga: Gus Yahya: Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Harus Jadi Landasan Strategis Abad Kedua NU

Rembuk Warga NU Seri 3 merupakan bagian dari rangkaian forum diskusi yang diselenggarakan Forbes NU 26 menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Berbagai pandangan yang muncul dalam forum tersebut diharapkan menjadi masukan bagi dinamika organisasi menjelang forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut.