Ratusan Ribu Warga Demo di Eropa, Ada Apa dengan Ekonomi Benua Biru?
Kepala Ekonom Eropa Capital Economics, Andrew Kenningham, menilai gelombang demonstrasi dan kerusuhan di Eropa tidak dipicu oleh satu faktor tunggal. Kenaikan biaya energi mungkin turut berperan, tetapi dampaknya dinilai tidak sebesar lonjakan harga energi pada 2022, ketika perang Rusia-Ukraina dimulai.
“Masalah mendasarnya adalah para politisi tidak mampu menawarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi banyak warga Eropa karena ekonomi hanya tumbuh lambat dan pemerintah telah menumpuk utang yang besar,” ujar Kenningham.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan besarnya utang pemerintah membatasi kemampuan negara untuk meningkatkan belanja publik atau memangkas pajak. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika masyarakat menuntut perbaikan layanan publik sekaligus membutuhkan bantuan untuk menghadapi kenaikan biaya hidup.
Tekanan ekonomi juga tercermin dari sejumlah indikator di Prancis. Data yang dikutip CNBC menunjukkan tingkat pengangguran negara tersebut mencapai 8,3 persen pada kuartal II 2026. Sementara itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,1 persen pada September 2026, dengan harga energi melonjak 21,3 persen pada periode yang sama.
Kondisi tersebut menambah tantangan bagi pemerintah Eropa dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga. Di satu sisi, pemerintah dituntut merespons keresahan warga melalui kebijakan yang membantu meringankan beban hidup dan memperbaiki layanan publik. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang lambat dan keterbatasan anggaran membuat ruang kebijakan menjadi lebih terbatas.
Gelombang demonstrasi di berbagai negara itu pun menyoroti persoalan yang lebih luas daripada kenaikan harga bahan bakar semata. Keterjangkauan perumahan, kualitas layanan publik, dan harapan terhadap perbaikan kondisi ekonomi menjadi sejumlah isu yang perlu dihadapi pemerintah Eropa.