Qodari: Buku "Juru Bicara" relevan dengan tugas Bakom - ANTARA News Bali
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan buku "Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" relevan dengan tugas Bakom dalam mengorkestrasi komunikasi kebijakan dan program strategis pemerintah.
"Buku ini ditulis tanpa menyebut Bakom sama sekali, tetapi sangat menggambarkan apa yang sedang dikerjakan oleh Bakom," kata Qodari saat peluncuran buku tersebut di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat.
Menurut dia, buku yang ditulis oleh Praktisi komunikasi sekaligus Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butar Butar bersama Marlinda Irwanti Poernomo itu memberikan kerangka mengenai peran juru bicara pemerintah yang sejalan dengan tugas Bakom sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2025.
Qodari mengatakan Bakom bertugas mengorkestrasi komunikasi kebijakan dan program strategis pemerintah dari pusat hingga daerah. Dalam pelaksanaannya, Bakom juga perlu bekerja sama erat dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Dia menilai analogi pemerintah sebagai sebuah orkestra yang digunakan dalam buku tersebut sesuai dengan tugas komunikasi pemerintah.
Kepala pemerintahan diibaratkan sebagai komposer yang menyusun visi dan kebijakan, sementara menteri dan kepala lembaga memainkan instrumen masing-masing. Adapun juru bicara berperan sebagai dirigen yang menyatukan komunikasi agar pesan pemerintah tersampaikan secara harmonis kepada publik.
Qodari juga menyoroti pembahasan dalam buku mengenai tata kelola kelembagaan kantor juru bicara, khususnya pentingnya kemitraan antara juru bicara pusat dan humas kementerian, forum koordinasi reguler, serta pembagian peran juru bicara untuk isu lintas sektor.
"Hubungan antara juru bicara pusat dan humas kementerian harus dibangun sebagai kemitraan, bukan dalam hubungan birokratis yang kaku," ujarnya.
Menurut Qodari, prinsip tersebut sedang dibangun dalam pelaksanaan tugas Bakom, termasuk ketika pemerintah menangani isu lintas sektor.
Dia mencontohkan penanganan komunikasi terkait erupsi Gunung Anak Krakatau yang melibatkan sejumlah kementerian.
Bakom, kata dia, menggelar tiga konferensi pers dengan menghadirkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menjelaskan antisipasi dampak kesehatan akibat abu vulkanik, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengenai dampak terhadap transportasi, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengenai proses pembelajaran.
"Buku ini membantu menjelaskan kenapa istilah orkestrasi itu memang tepat," kata Qodari.
Dia menambahkan buku tersebut sengaja disusun dalam bentuk kerangka dan tidak menyebut lembaga tertentu sehingga dapat diterapkan dalam berbagai konteks.
Qodari mengatakan salah satu tesis utama buku itu adalah juru bicara bukan sekadar penyampai pesan, tetapi aktor strategis yang berperan dalam membentuk persepsi dan menjaga kepercayaan publik.
Hal tersebut, lanjutnya, semakin penting seiring perubahan lanskap komunikasi, ketika masyarakat mendapatkan informasi dari berbagai kanal, termasuk media sosial dan platform video.
Oleh karena itu, Qodari menilai pemerintah harus hadir dalam ruang informasi dengan menyampaikan data dan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
"Ketika negara tidak menjelaskan, tidak tampil dengan data, tidak tampil dengan informasi, maka akan selalu ada pihak lain yang akan menjelaskan versi mereka," ujarnya.
Dia mengatakan komunikasi pemerintah pada akhirnya bukan hanya mengenai penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari upaya negara menjelaskan pelaksanaan mandat konstitusi kepada masyarakat.
Qodari menegaskan pemerintah tidak berbicara semata-mata untuk mendapatkan pujian, tetapi agar kebijakan dan program yang dijalankan dapat dipahami masyarakat.
"Negara berbicara bukan supaya dipuji, negara berbicara supaya dimengerti dan sesuatu yang dimengerti jauh lebih mungkin untuk dipercaya," katanya.
Pada kesempatan itu, Qodari juga menyampaikan apresiasi kepada Marlinda Irwanti Poernomo dan Benny Siga Butar-Butar yang dinilai memiliki pengalaman dari dua sisi dalam dunia komunikasi.
Marlinda memiliki latar belakang akademik, politik, dan penyiaran, sedangkan Benny memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia jurnalistik, komunikasi korporasi, dan pemerintahan. Menurut Qodari, latar belakang keduanya membuat buku tersebut memiliki perspektif yang lengkap mengenai pekerjaan juru bicara pemerintah.
"Artinya bapak ibu sekalian, buku ini ditulis oleh dua orang yang pernah berada di dua sisi meja, saya ulangi, pernah berada di dua sisi meja. Di satu sisi ditanya, di sisi lain bertanya. Jadi ini perspektif yang sangat lengkap, yang sangat berharga, apalagi temanya adalah juru bicara pemerintah," ucapnya.
Pewarta: Fathur Rochman/Livia Kristianti
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.