gop-crypto.vip

PSAK 117 Ubah Cara Membaca Laporan Keuangan Asuransi, Ini Perbedaan yang Perlu Dipahami

Perubahan tersebut menjadi perhatian utama dalam Media Workshop: Memahami Laporan Keuangan Industri Asuransi di Era PSAK 117 yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada 31 Juli 2026. Workshop tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan literasi media mengenai perubahan standar pelaporan keuangan yang mulai diterapkan perusahaan asuransi di Indonesia.

Ringkasan

Secara sederhana, PSAK 117 mengubah cara perusahaan asuransi mengakui pendapatan dan laba. Jika sebelumnya banyak pembaca berfokus pada premi yang diterima perusahaan, kini laporan keuangan lebih menitikberatkan pada jasa asuransi yang benar-benar telah diberikan kepada pemegang polis.

Perubahan utamanya meliputi:

  • Pendapatan tidak lagi diukur hanya dari premi yang diterima, melainkan berdasarkan jasa asuransi yang telah diberikan.

  • Laba diakui secara bertahap seiring perusahaan memenuhi kewajibannya kepada nasabah.

  • Muncul indikator baru seperti Insurance Revenue, Insurance Service Result, dan Contractual Service Margin (CSM).

  • Laporan keuangan menjadi lebih transparan dan lebih mudah dibandingkan antarperusahaan karena menggunakan pendekatan yang lebih seragam.

Dengan kata lain, PSAK 117 menggeser fokus pembaca laporan keuangan dari "berapa banyak premi yang diterima" menjadi "berapa banyak jasa asuransi yang sudah benar-benar diberikan dan menghasilkan nilai ekonomi."

Mengapa PSAK 117 Mengubah Cara Membaca Laporan Keuangan Asuransi?

Perubahan ini tidak muncul tanpa alasan. Sebelum PSAK 117 diterapkan, perusahaan asuransi di Indonesia menggunakan PSAK 62 yang mengadopsi IFRS 4. Standar tersebut masih memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk menggunakan berbagai praktik akuntansi yang telah diterapkan sebelumnya.

Akibatnya, laporan keuangan antarperusahaan sering kali sulit dibandingkan secara langsung karena metode pencatatan yang digunakan dapat berbeda. Hal ini menyulitkan investor maupun masyarakat untuk memperoleh gambaran yang benar-benar setara mengenai kondisi keuangan masing-masing perusahaan.

Dalam workshop tersebut, akademisi akuntansi Universitas Padjadjaran Ersa Tri Wahyuni menjelaskan bahwa penerapan PSAK 117 bertujuan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan industri asuransi.

"Penerapan PSAK 117 diperlukan untuk meningkatkan komparabilitas dan konsistensi laporan keuangan perusahaan asuransi, mengingat PSAK 62 sebelumnya masih memberikan ruang bagi perbedaan praktik pelaporan karena belum mengatur sejumlah aspek secara rinci," jelas Ersa di Graha Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.

Menurutnya, implementasi PSAK 117 membawa perubahan besar terhadap penyajian laporan laba rugi, pengukuran liabilitas cadangan asuransi jiwa, hingga penyajian aset dan liabilitas. Dengan pendekatan baru tersebut, laporan keuangan diharapkan menjadi lebih transparan, lebih konsisten, dan lebih mudah diperbandingkan antarperusahaan.

Perubahan tersebut juga sejalan dengan adopsi International Financial Reporting Standard (IFRS) 17, yang menjadi standar global dalam pelaporan kontrak asuransi. Melalui adopsi ini, kualitas pelaporan perusahaan asuransi Indonesia diharapkan semakin sejalan dengan praktik internasional.

Tahun 2026 Menjadi Titik Balik Cara Membaca Laporan Keuangan Asuransi

Bagi industri asuransi, tahun 2026 bukan sekadar pergantian periode pelaporan. Tahun ini menjadi momen pertama perusahaan asuransi mempublikasikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit menggunakan PSAK 117.

Artinya, angka-angka yang muncul dalam laporan keuangan akan terlihat berbeda dibandingkan laporan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut bukan berarti kondisi bisnis perusahaan otomatis berubah secara drastis, melainkan karena cara pencatatan dan penyajian transaksi juga berubah.

Inilah alasan mengapa AAJI menilai peningkatan literasi menjadi sangat penting, terutama bagi media yang berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Direktur Eksekutif AAJI Emira E. Oepangat menilai pemahaman yang memadai akan membantu publik memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kondisi industri.

"Dalam waktu dekat, masyarakat termasuk media akan membaca laporan keuangan tahun buku 2025 audited perusahaan asuransi yang disusun berdasarkan PSAK 117. Pemahaman yang baik terhadap perubahan standar pelaporan keuangan akan mendukung penyajian informasi yang lebih akurat, berimbang, dan sesuai dengan konteks, sehingga meminimalkan potensi misinterpretasi/misleading headline dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi jiwa," ujar Emira.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan penerapan PSAK 117 bukan hanya berada di internal perusahaan asuransi, tetapi juga pada pihak yang membaca dan menginterpretasikan laporan keuangan tersebut.

Mengapa Premi Tidak Lagi Menjadi Tolok Ukur Utama Pendapatan?

Salah satu perubahan paling mendasar dalam PSAK 117 adalah cara memandang pendapatan perusahaan asuransi.

Selama ini, banyak pembaca menganggap semakin besar premi yang diterima perusahaan, semakin besar pula pendapatan yang dihasilkan. Logika tersebut memang mudah dipahami karena premi merupakan uang yang dibayarkan nasabah kepada perusahaan.

Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas bisnis asuransi.

Ketika seseorang membeli polis asuransi, perusahaan sebenarnya belum sepenuhnya "menghasilkan" pendapatan pada hari itu juga. Perusahaan masih memiliki kewajiban memberikan perlindungan kepada nasabah selama masa pertanggungan yang dapat berlangsung bertahun-tahun.

Karena itulah PSAK 117 memperlakukan pendapatan secara berbeda.

Ersa menjelaskan bahwa salah satu perubahan paling signifikan adalah hilangnya penyajian premi bruto sebagai dasar utama memahami pendapatan pada laporan keuangan berbasis PSAK 117.

"Salah satu perubahan yang signifikan adalah cara memandang pendapatan. Sebelumnya, informasi mengenai premi bruto dapat diperoleh dari laporan keuangan. Namun, pada laporan keuangan berdasarkan PSAK 117, informasi tersebut tidak lagi disajikan karena pendapatan tidak diukur berdasarkan penerimaan arus kas premi, melainkan berdasarkan pelepasan liabilitas seiring berjalannya waktu ketika perusahaan asuransi memberikan jasanya."

Pernyataan tersebut sering kali menimbulkan kebingungan bagi pembaca awam. Padahal, konsepnya dapat dipahami melalui ilustrasi sederhana.

Ilustrasi Sederhana

Bayangkan seseorang membeli polis asuransi kesehatan dengan masa perlindungan satu tahun dan membayar premi sebesar Rp12 juta di awal kontrak.

Dalam cara pandang lama, banyak orang akan menganggap perusahaan langsung memperoleh pendapatan Rp12 juta.

Namun dalam konsep PSAK 117, perusahaan baru dianggap memperoleh pendapatan seiring waktu ketika perlindungan benar-benar diberikan kepada nasabah.

Artinya, nilai ekonomi dari kontrak tersebut diakui secara bertahap selama perusahaan memenuhi kewajibannya memberikan perlindungan, bukan semata-mata ketika uang premi diterima.

Mengapa Perubahan Ini Justru Membuat Laporan Keuangan Lebih Berkualitas?

Bagi sebagian orang, perubahan tersebut mungkin terlihat hanya sebagai perubahan teknis akuntansi. Padahal, dampaknya jauh lebih besar.

Pendekatan baru membuat laporan keuangan lebih mencerminkan aktivitas ekonomi yang benar-benar terjadi, bukan sekadar arus kas yang masuk ke perusahaan.

Sebagai contoh, dua perusahaan dapat sama-sama menerima premi dalam jumlah besar pada awal tahun. Namun, apabila karakteristik produk, durasi perlindungan, atau jasa yang telah diberikan berbeda, maka pendapatan yang diakui dalam laporan keuangan juga dapat berbeda.

Di sinilah kualitas informasi meningkat. Investor tidak lagi hanya melihat berapa banyak uang yang diterima perusahaan, tetapi juga dapat memahami berapa besar jasa yang telah benar-benar diberikan kepada nasabah.

Perubahan ini juga membantu mengurangi risiko kesimpulan yang terlalu sederhana, seperti menganggap kenaikan premi selalu identik dengan kenaikan pendapatan atau laba. Dalam praktiknya, hubungan tersebut kini menjadi lebih kompleks karena dipengaruhi oleh pola penyediaan jasa asuransi selama masa kontrak.

Baca Juga: Ini 4 Tantangan Industri Asuransi di Era PSAK 117

Baca Juga: Laporan Keuangan Asuransi Berubah, Ini yang Perlu Diperhatikan

Lima Indikator Baru yang Wajib Dipahami Saat Membaca Laporan Keuangan Asuransi

Perubahan paling besar yang dibawa PSAK 117 bukan sekadar hilangnya fokus pada premi sebagai ukuran pendapatan. Standar ini juga memperkenalkan sejumlah indikator yang kini menjadi acuan utama dalam menilai kinerja perusahaan asuransi.

Bagi investor maupun masyarakat umum, memahami indikator-indikator tersebut jauh lebih penting dibandingkan sekadar melihat apakah laba bersih naik atau turun.

1. Insurance Revenue

Insurance revenue merupakan pendapatan yang berasal dari jasa asuransi yang telah diberikan perusahaan kepada pemegang polis selama periode tertentu.

Berbeda dengan konsep lama yang sering dikaitkan dengan premi yang diterima, insurance revenue mencerminkan nilai jasa yang telah "dikonsumsi" oleh nasabah.

Artinya, ketika perusahaan menerima premi di awal masa pertanggungan, seluruh nilai tersebut belum otomatis menjadi pendapatan. Pendapatan baru diakui secara bertahap seiring perusahaan memenuhi kewajibannya memberikan perlindungan.

Inilah sebabnya angka insurance revenue dapat berbeda jauh dengan total premi yang diterima.

2. Insurance Service Result

Jika insurance revenue menunjukkan pendapatan dari jasa asuransi, maka Insurance Service Result (ISR) menggambarkan hasil operasional inti perusahaan asuransi.

Secara sederhana, indikator ini membantu menjawab pertanyaan:

Apakah bisnis asuransinya sendiri menghasilkan keuntungan?

Selama ini, laba perusahaan asuransi dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk hasil investasi.

Dengan adanya insurance service result, pembaca laporan keuangan dapat membedakan apakah keuntungan berasal dari aktivitas inti perusahaan sebagai penyedia perlindungan atau dari faktor lain seperti investasi.

Bagi investor, pemisahan ini sangat penting karena membantu menilai kualitas bisnis perusahaan secara lebih objektif.

3. Investment Result

Perusahaan asuransi mengelola dana dalam jumlah besar yang kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen, seperti obligasi, saham, deposito, maupun surat berharga lainnya.

Karena itu, investment result tetap menjadi bagian penting dalam laporan keuangan.

Namun PSAK 117 membuat pembaca lebih mudah membedakan antara:

  • keuntungan dari bisnis asuransi;

  • keuntungan dari investasi.

Pemisahan tersebut membuat analisis menjadi lebih tajam.

Misalnya, perusahaan mungkin mencatat laba bersih tinggi, tetapi ternyata sebagian besar berasal dari keuntungan investasi sementara hasil jasa asuransinya justru melemah.

Tanpa pemisahan ini, pembaca bisa saja menyimpulkan bahwa bisnis inti perusahaan sangat sehat, padahal kondisi sebenarnya berbeda.

4. Contractual Service Margin (CSM)

Inilah istilah yang paling sering muncul ketika membahas PSAK 117.

Contractual Service Margin (CSM) dapat dipahami sebagai nilai keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh perusahaan dari jasa asuransi yang masih akan diberikan di masa depan.

Dengan kata lain, CSM bukan keuntungan yang sudah direalisasikan.

Sebaliknya, CSM menunjukkan potensi laba yang akan diakui secara bertahap sepanjang perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis.

Dalam workshop AAJI, CSM juga disebut sebagai salah satu tantangan utama implementasi PSAK 117 karena memerlukan data, asumsi aktuaria, hingga sistem informasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan standar sebelumnya.

Bagi investor, pergerakan CSM atau CSM movement menjadi indikator penting untuk melihat keberlanjutan pertumbuhan bisnis perusahaan.

5. New RBC

Selain indikator operasional, AAJI juga menyoroti New RBC sebagai salah satu metrik yang perlu diperhatikan.

Risk Based Capital (RBC) selama ini dikenal sebagai ukuran tingkat kesehatan permodalan perusahaan asuransi.

Dalam era PSAK 117, perkembangan menuju New RBC menjadi bagian dari penyesuaian industri terhadap perubahan standar akuntansi dan pelaporan.

Meski masyarakat umum mungkin tidak perlu memahami seluruh formula perhitungannya, keberadaan indikator ini tetap penting karena berkaitan dengan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis.

Simulasi: Mengapa Angka Laporan Keuangan Bisa Berubah Padahal Bisnisnya Tidak?

Perubahan PSAK 117 sering menimbulkan pertanyaan sederhana:

Mengapa angka pendapatan perusahaan bisa turun padahal premi justru meningkat?

Untuk memahami jawabannya, bayangkan ilustrasi berikut.

Sebelum PSAK 117

Perusahaan Asuransi A berhasil menjual banyak polis baru sepanjang tahun.

Premi yang diterima mencapai Rp1 triliun.

Sebagian pembaca langsung menganggap pendapatan perusahaan juga meningkat signifikan.

Setelah PSAK 117

Perusahaan yang sama tetap menerima premi Rp1 triliun.

Namun perlindungan kepada nasabah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akibatnya, pendapatan yang diakui pada tahun berjalan hanya mencerminkan jasa yang telah diberikan selama periode tersebut.

Insurance revenue yang muncul dalam laporan keuangan bisa saja jauh lebih kecil daripada nilai premi yang diterima.

Apakah bisnis perusahaan memburuk?

Belum tentu.

Justru bisa jadi perusahaan memperoleh lebih banyak bisnis baru dibandingkan tahun sebelumnya, hanya saja pengakuan pendapatannya dilakukan secara bertahap.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Inilah salah satu risiko terbesar ketika membandingkan laporan keuangan sebelum dan sesudah PSAK 117.

Misalnya seorang analis melihat:

  • insurance revenue turun;

  • laba berubah;

  • liabilitas meningkat.

Lalu ia menyimpulkan perusahaan sedang mengalami penurunan kinerja.

Padahal perubahan tersebut mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan metode pencatatan dibandingkan penurunan bisnis secara ekonomi.

Inilah alasan AAJI menilai literasi terhadap PSAK 117 menjadi sangat penting, terutama bagi media dan investor.

Empat Tantangan Besar Implementasi PSAK 117

Meski memberikan transparansi yang lebih baik, penerapan PSAK 117 juga membawa tantangan yang tidak sederhana.

Dalam workshop tersebut, Sisca Wirjawan, Head Working Group Keuangan & Permodalan AAJI, mengungkapkan hasil survei industri pada kuartal I-2026 menunjukkan sejumlah tantangan utama implementasi.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Contractual Service Margin (CSM);

  • Expected Credit Loss (ECL) sesuai PSAK 109;

  • kesiapan data dan sistem;

  • asumsi aktuaria;

  • tingkat diskonto.

Kelima aspek tersebut saling berkaitan dan membutuhkan perubahan proses bisnis, bukan hanya perubahan di departemen akuntansi.

Sisca menjelaskan bahwa transformasi ini akan terus berlanjut melalui empat fokus utama.

Pertama, otomasi dan digitalisasi, yaitu meningkatkan efisiensi, akurasi, dan skalabilitas proses pelaporan.

Kedua, penguatan tata kelola serta kualitas data agar informasi yang digunakan benar-benar dapat diandalkan.

Ketiga, pemanfaatan analitik bisnis, sehingga informasi yang dihasilkan PSAK 117 tidak hanya memenuhi kewajiban pelaporan, tetapi juga membantu pengambilan keputusan strategis.

Keempat, konsistensi interpretasi, sehingga seluruh pelaku industri memiliki pemahaman yang sama terhadap penerapan standar baru tersebut.

Transformasi ini menunjukkan bahwa PSAK 117 bukan hanya proyek akuntansi, melainkan perubahan menyeluruh terhadap cara perusahaan mengelola data, risiko, dan informasi bisnis.


Mengapa Laba Bersih Saja Tidak Lagi Cukup?

Salah satu perubahan cara berpikir yang paling penting dalam era PSAK 117 adalah bahwa laba bersih tidak lagi menjadi satu-satunya indikator untuk menilai kualitas perusahaan asuransi.

Selama ini, banyak orang terbiasa membandingkan perusahaan berdasarkan pertumbuhan laba bersih dari tahun ke tahun.

Padahal laba dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk hasil investasi maupun perubahan asumsi akuntansi.

PSAK 117 berupaya memisahkan berbagai sumber keuntungan tersebut sehingga pembaca memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bisnis sebenarnya.

Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI Meylindawati Tjoa menegaskan bahwa perubahan ini merupakan transformasi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar pergantian standar akuntansi.

"Implementasi PSAK 117 bukan sekadar perubahan standar akuntansi, tetapi perjalanan transformasi bernilai bagi seluruh industri asuransi. Tidak hanya melihat laba bersih, tapi juga kualitas, keberlanjutan dan sumber nilai layanan masa depan. Kolaborasi kuat lintas pemangku kepentingan (regulator, penyusun standar, auditor, aktuaris, dan pelaku industri) tetap penting untuk mencapai implementasi yang konsisten dan berkualitas tinggi," ungkap Meylindawati.

Pernyataan tersebut mengandung pesan penting.

Mulai sekarang, pembaca laporan keuangan perlu bertanya bukan hanya:

  • Berapa laba perusahaan?

Tetapi juga:

  • Dari mana laba tersebut berasal?

  • Apakah berasal dari jasa asuransi?

  • Apakah berasal dari investasi?

  • Apakah pertumbuhan bisnis baru masih kuat?

  • Bagaimana perkembangan CSM sebagai sumber laba masa depan?

Pendekatan seperti ini menghasilkan analisis yang jauh lebih komprehensif dibandingkan hanya melihat laba bersih.

PSAK 117 Mengubah Cara Menilai Kualitas Bisnis Asuransi

Ada satu perubahan yang sering luput dari perhatian ketika membahas PSAK 117.

Selama ini, fokus analisis perusahaan asuransi lebih banyak tertuju pada hasil akhir berupa laba.

Padahal laba hanya menunjukkan apa yang sudah terjadi.

PSAK 117 justru mendorong pembaca melihat proses pembentukan laba.

Melalui indikator seperti Insurance Service Result dan CSM, laporan keuangan mulai memperlihatkan apakah perusahaan benar-benar menghasilkan keuntungan dari bisnis perlindungan yang dijalankan atau hanya terbantu oleh kondisi pasar investasi.

Pendekatan ini membuat analisis menjadi lebih mendalam.

Investor dapat lebih mudah membedakan perusahaan yang memiliki pertumbuhan bisnis berkelanjutan dengan perusahaan yang laba bersihnya hanya terdorong faktor eksternal.

Dalam jangka panjang, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, baik oleh investor, regulator, maupun manajemen perusahaan.

Mengapa Perubahan Ini Penting bagi Masyarakat?

Meski istilah-istilah seperti CSM atau insurance revenue terdengar teknis, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh akuntan.

Perubahan ini penting karena:

  • masyarakat memperoleh informasi yang lebih transparan mengenai kondisi perusahaan asuransi;

  • investor dapat membandingkan perusahaan secara lebih adil;

  • media memiliki dasar yang lebih kuat untuk menyusun pemberitaan;

  • regulator memperoleh pelaporan yang lebih konsisten;

  • industri memiliki standar yang selaras dengan praktik internasional melalui adopsi IFRS 17.

Dengan kata lain, PSAK 117 bertujuan membuat laporan keuangan tidak hanya memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga menjadi alat komunikasi yang lebih informatif bagi seluruh pemangku kepentingan.

Kesimpulan

PSAK 117 menandai perubahan besar dalam cara memahami laporan keuangan perusahaan asuransi di Indonesia.

Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada premi dan laba bersih, kini pembaca perlu memahami indikator baru seperti Insurance Revenue, Insurance Service Result, Contractual Service Margin (CSM), Investment Result, dan New RBC agar memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kesehatan perusahaan.

Perubahan tersebut memang membuat laporan keuangan menjadi lebih kompleks. Namun di sisi lain, informasi yang disajikan juga menjadi lebih transparan, lebih konsisten, dan lebih mencerminkan aktivitas ekonomi yang sebenarnya.

Karena itu, membandingkan laporan keuangan sebelum dan sesudah PSAK 117 tidak dapat dilakukan secara sederhana. Pembaca perlu memahami konteks perubahan standar agar tidak salah menafsirkan kondisi perusahaan.

Seiring semakin banyak perusahaan mempublikasikan laporan keuangan berbasis PSAK 117, kemampuan membaca indikator-indikator baru tersebut akan menjadi keterampilan penting, baik bagi investor, media, maupun masyarakat umum yang ingin memahami perkembangan industri asuransi Indonesia.

Pantau terus perkembangan implementasi PSAK 117 agar Anda dapat membaca laporan keuangan perusahaan asuransi dengan perspektif yang lebih tepat dan tidak terjebak pada interpretasi yang keliru.

Baca Juga: LPEI Siapkan Pembiayaan hingga Asuransi untuk Dorong Ekspor Tekstil Indonesia

Baca Juga: Inflasi Medis Indonesia Tembus Salah Satu Tertinggi di Asia, Begini Upaya OJK Menahan Kenaikan Premi Asuransi


FAQ

Apa itu PSAK 117?

PSAK 117 adalah standar akuntansi baru untuk kontrak asuransi di Indonesia yang mengadopsi IFRS 17. Standar ini mengubah cara perusahaan asuransi mengukur liabilitas, mengakui pendapatan, serta menyajikan laporan keuangan agar lebih transparan dan mudah dibandingkan antarperusahaan.

Apa perbedaan utama PSAK 117 dengan PSAK 62?

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara pengakuan pendapatan dan laba. PSAK 62 masih memberikan ruang bagi berbagai praktik akuntansi, sedangkan PSAK 117 menggunakan pendekatan yang lebih seragam dengan menitikberatkan pada jasa asuransi yang telah diberikan, bukan sekadar premi yang diterima.

Mengapa premi tidak lagi menjadi pendapatan perusahaan asuransi?

Dalam PSAK 117, premi merupakan arus kas yang diterima perusahaan, tetapi pendapatan baru diakui seiring perusahaan memberikan perlindungan kepada pemegang polis. Pendekatan ini membuat pendapatan lebih mencerminkan jasa yang benar-benar telah diberikan.

Apa itu Contractual Service Margin (CSM)?

Contractual Service Margin atau CSM adalah nilai keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh perusahaan dari jasa asuransi yang masih akan diberikan pada masa mendatang. CSM menjadi salah satu indikator penting untuk melihat potensi laba masa depan perusahaan.

Apa yang dimaksud Insurance Service Result?

Insurance Service Result merupakan ukuran hasil operasional inti perusahaan asuransi. Indikator ini membantu membedakan keuntungan yang berasal dari bisnis asuransi dengan keuntungan yang berasal dari aktivitas investasi atau faktor lainnya.

Apakah PSAK 117 memengaruhi cara investor membaca laporan keuangan?

Ya. Investor kini tidak cukup hanya melihat laba bersih atau pertumbuhan premi. Mereka juga perlu memperhatikan Insurance Revenue, Insurance Service Result, CSM, Investment Result, serta indikator solvabilitas seperti New RBC agar memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.

Mengapa masyarakat umum perlu memahami PSAK 117?

Pemahaman terhadap PSAK 117 membantu masyarakat membaca laporan keuangan perusahaan asuransi secara lebih tepat. Dengan memahami perubahan indikator yang digunakan, risiko salah menafsirkan kondisi keuangan perusahaan dapat diminimalkan.