gop-crypto.vip

Pemulihan Sungai Aceh berlanjut dari ke hilir

Penanganan darurat infrastruktur sumber daya air yang terdampak bencana di Aceh telah mencapai 92,06 persen. Capaian tersebut menjadi pijakan untuk melanjutkan pemulihan melalui tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang dirancang secara lebih menyeluruh hingga 2028.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Asyari mengatakan progres fisik penanganan terus bergerak di sejumlah wilayah terdampak. “Hingga saat ini, progres penanganan telah mencapai 92,06 persen,” kata Asyari di Banda Aceh, Jumat (11/9/2026).

Selama masa tanggap darurat, pekerjaan difokuskan pada pemulihan fungsi infrastruktur sumber daya air. Penanganan meliputi pembersihan dan normalisasi sungai serta muara, perkuatan tebing dan tanggul, pembersihan lumpur pada jaringan irigasi, serta penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.

“Langkah ini untuk mengembalikan fungsi aliran sungai dan jaringan irigasi, mengurangi potensi risiko bencana lanjutan, serta mendukung pemulihan aktivitas masyarakat yang terdampak,” ujar Asyari.

Di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, progres fisik telah mencapai 87,79 persen. Capaian tersebut terdiri atas perkuatan tebing dan tanggul sebesar 94,68 persen, penanganan daerah irigasi 85,84 persen, serta normalisasi sungai dan pengerukan muara 78,03 persen.

Pada wilayah tersebut, penanganan lima muara menggunakan ekskavator telah selesai, sedangkan pengerukan menggunakan kapal keruk atau dredger masih berlangsung di tiga muara. BWS Sumatera I juga melakukan pengeboran tiga titik sumur di sekitar kawasan sinkhole di Bener Meriah.

Sementara itu, progres penanganan di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang telah mencapai 91,04 persen. Perkuatan tebing dan tanggul mencapai 92,55 persen, sedangkan normalisasi sungai dan saluran irigasi mencapai 84,74 persen. Penyediaan air bersih melalui pembangunan 24 titik sumur bor di wilayah tersebut telah selesai 100 persen.

Penanganan darurat di Aceh Barat, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara juga telah mencapai 100 persen. Pekerjaan yang dilaksanakan mencakup perkuatan tebing dan tanggul serta normalisasi sungai untuk memulihkan fungsi aliran dan mengurangi risiko banjir.

Setelah penanganan darurat diselesaikan, BWS Sumatera I akan melanjutkan pekerjaan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Penanganan akan dilakukan secara terpadu dari bagian hulu hingga hilir daerah aliran sungai, antara lain melalui pembangunan sabo dam, perkuatan tebing sungai, serta perbaikan dan penanganan muara.

“Penanganan ini kita harapkan tidak hanya memulihkan kondisi infrastruktur terdampak bencana, tetapi juga memperkuat sistem pengendalian dan perlindungan sungai sehingga dapat memberikan manfaat dan rasa aman lebih baik bagi masyarakat Aceh,” kata Asyari.