Prakarsa Warga dorong pasar di Jakarta kelola sampah secara mandiri
Jakarta (ANTARA) - Komunitas Prakarsa Warga mendorong pasar tradisional di DKI Jakarta dapat mengelola sampah secara mandiri dengan melibatkan masyarakat sesuai dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
“Pasar merupakan salah satu kawasan yang membutuhkan sistem pengelolaan sampah secara terintegrasi, mengingat aktivitas perdagangan setiap hari menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar,” kata inisiator Prakarsa Warga, La Ode Basir, di Jakarta, Senin.
La Ode menjelaskan pengelolaan sampah pasar perlu dikembangkan lebih dari sekadar kegiatan pengumpulan dan pengangkutan.
Ia menilai sampah organik, seperti sisa sayuran dan buah-buahan, memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi melalui sistem yang tepat dan berkelanjutan.
Menurut dia, pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka green jobs atau lapangan kerja ramah lingkungan bagi masyarakat.
“Praktik baik seperti ini perlu didukung dan direplikasi secara lebih luas, terutama di Jakarta,” tambahnya,” kata dia.
Sebelumnya, Prakarsa Warga bersama Perumda Pasar Jaya dan Jakpro mengunjungi Pasar Induk Caringin, Bandung, Jawa Barat, pada Minggu (18/10) guna mempelajari praktik pengelolaan dan pemilahan sampah pasar tradisional secara mandiri.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah yang terpadu, berkelanjutan, serta melibatkan masyarakat di pasar-pasar yang dikelola Pasar Jaya dan Jakpro di Jakarta.
Ia menambahkan kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan sistem pengolahan sampah, khususnya jenis sampah organik yang tidak hanya mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan membuka peluang kerja bagi warga di sekitar pasar.
La Ode menambahkan Pasar Jaya dan Jakpro memiliki peran strategis karena mengelola berbagai kawasan pasar dan properti di Jakarta.
Menurut dia, pengelolaan sampah secara mandiri perlu dikembangkan agar sampah dapat ditangani sejak dari sumbernya sehingga mengurangi beban TPST Bantargebang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menurut dia, Pasar Caringin menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Sementara itu, Pemilik Pasar Induk Caringin Agung Suryamal menjelaskan kawasan pasar tersebut telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular secara mandiri.
Menurut dia, pengelolaan sampah di Pasar Induk Caringin dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
Melalui sistem tersebut, sampah organik segar yang dihasilkan dari aktivitas pasar dipilah dan diolah agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
Pengolahan sampah organik di kawasan itu dilaporkan telah mencapai sekitar 40 ton per hari dan terus diarahkan menuju kapasitas maksimal yang ditargetkan pengelola.
Program ini dinilai sukses menyulap puluhan ton sampah organik (sisa sayuran pedagang) menjadi pakan fermentasi bernutrisi tinggi untuk sapi, kambing, dan domba. Secara umum, metode bioteknologi yang diterapkan untuk mengubah limbah organik pasar tersebut menjadi silase pakan hewan.
Berdasarkan hasil laboratorium, hewan ternak yang mengonsumsi silase ini mengalami kenaikan bobot badan serta peningkatan produksi susu perah antara 10 persen hingga 20 persen.
Baca juga: Pasar Jaya dukung gerakan pemilahan sampah dari sumbernya
Baca juga: Pasar Jaya bangun gerakan Jakarta tanpa plastik sekali pakai
Baca juga: PD Pasar Jaya miliki teba modern di Pasar Minggu untuk kelola sampah
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.