Polusi Udara Pekanbaru Masuk Level Berbahaya di Tengah Peningkatan Karhutla - Ekonomi Sirkular Katadata.co.id
Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, mencapai level berbahaya pagi ini, Jumat (28/8). Dari pantauan situs IQAir pukul 07.30 WIB, kualitas udara Pekanbaru tergolong berbahaya dengan poin AQI sebesar 402.
Dalam kategori tersebut, semua orang berisiko mengalami efek kesehatan. Oleh karena itu, IQAir menyarankan setiap orang untuk menghindari olahraga di luar ruangan, serta merekomendasikan penggunaan masker polusi di dalam dan luar ruangan.
Masyarakat dianjurkan hanya keluar rumah jika diperlukan, terus memperhatikan arahan otoritas kesehatan setempat, dan memastikan hunian tetap tertutup untuk menghindari udara tercemar.
"Setiap orang berisiko tinggi mengalami iritasi parah dan efek kesehatan negatif yang dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular" demikian dikutip dari laman IQAir, pada Jumat (28/8).
Memburuknya kualitas udara Pontianak terjadi seiring meningkatnya insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Pemerintah Kota Pekanbaru pun telah meningkatkan status penanganan karhutla dari sebelumnya Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat Bencana Karhutla. Total luas lahan terbakar di Kota Pekanbaru telah mencapai 85,09 hektare.
Selain Pekanbaru, beberapa wilayah lainnya juga tercatat memiliki kualitas udara buruk pagi ini. Berikut daftarnya:
- Pekanbaru, Riau, poin AQI 402 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 516,9 µg/m³, masuk kategori berbahaya,
- Pontianak, Kalimantan Barat, poin AQI 288 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 213,5 µg/m³, masuk kategori sangat tidak sehat,
- Palangka Raya, Kalimantan Tengah, poin AQI 242 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 166,4 µg/m³, masuk kategori sangat tidak sehat,
- Palembang, Sumatra Selatan, poin AQI 191 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 113 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kota Jambi, Jambi, poin AQI 167 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 78,7 µg/m³, masuk kategori tidak sehat.
Sementara itu, Semarang di Jawa Tengah memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 80. Di susul Bandung di Jawa Barat dengan poin AQI 90. Namun, kualitas udara keduanya masih tergolong dalam kategori sedang.
Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara paling sehat hanya mencatatkan poin AQI 8, tepatnya di Kyoto, Jepang. Berikutnya, ada Auckland di Selandia Baru dengan poin AQI 9 dan Osaka di Jepang dengan poin AQI 11. Kualitas udara ketiganya masuk kategori baik.
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sejumlah kota besar di dunia justru memiliki kualitas udara yang tergolong tidak sehat, berikut daftarnya:
- Delhi, India, poin AQI 168 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 79,6 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kuala Lumpur, Malaysia, poin AQI 160 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 68,3 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Doha, Qatar, poin AQI 157 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 64,5 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, poin AQI 152 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 57,6 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kampala, Uganda, poin AQI 105 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 37 µg/m³, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon.
Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.
Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.
Sementara itu, kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.
Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.