Polda mengungkap alasan penambahan pasal pidana pada kasus santri terbakar
Mataram (ANTARA) - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat mengungkap alasan penambahan pasal pidana pada kasus santri terbakar dalam insiden yang terjadi di salah satu pondok pesantren wilayah Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda NTB Komisaris Besar Polisi Ni Made Pujawati di Mataram, Kamis, mengatakan bahwa pasal tambahan tersebut terungkap berdasarkan fakta peristiwa hasil penyidikan.
"Kan fakta peristiwa hasil penyidikan kita dengan meneliti dokumen, meminta keterangan saksi dan ahli. Sehingga dirumuskan bersama-sama dengan kejaksaan muncul penambahan pasal itu," katanya.
Adanya penambahan pasal tersebut juga diperkuat dari fakta peristiwa yang terungkap dalam reka adegan di lokasi kejadian dengan menghadirkan kedua tersangka didampingi kuasa hukum maupun para ahli yang bersaksi.
Pujawati menyampaikan pasal tambahan yang masuk berkas kedua tersangka berkaitan dengan dugaan tindak pidana menempatkan anak dalam situasi perlakuan salah atau menempatkan sehingga terjadi kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan luka berat dan/atau meninggal dunia.
"Atau dugaan tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan orang lain mengalami luka berat dan/atau mengakibatkan matinya orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 474 ayat (2) dan/atau ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana," ujarnya.
Pada awal penetapan pimpinan pondok pesantren inisial AMR (55) bersama rekan korban inisial MR (15) sebagai tersangka, penyidik kepolisian menerapkan Pasal 359 atau Pasal 360 ayat (1) KUHP juncto Pasal 474 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP baru.
Baca juga: Polda NTB tak tahan WN Selandia Baru karena alasan lansia
Pasal tersebut berkaitan dengan tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan korban mengalami luka berat dan/atau meninggal dunia.
Dalam reka ulang peristiwa pada 13 Desember 2025 yang berlangsung pada Rabu (29/7), dua tersangka memerankan sedikitnya 50 adegan.
Dari hasil giat, kepolisian menarik kesimpulan bahwa tidak ada perbuatan yang mengarah pada unsur kesengajaan tersangka MR membakar korban, melainkan peristiwa yang mengakibatkan dua santri mengalami luka bakar dan satu meninggal tersebut mengarah pada insiden kebakaran.
Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026