PM Thailand: ASEAN kini di persimpangan jalan hadapi tantangan global
Jakarta (ANTARA) - Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan ASEAN kini berada di persimpangan jalan, dimana pilihan yang diambil saat ini akan menentukan apakah organisasi bangsa-bangsa di Asia Tenggara itu mampu terus membentuk masa depannya sendiri sekaligus mempertahankan perannya sebagai kekuatan yang dipercaya dan konstruktif di tingkat regional maupun global.
Pernyataan tersebut disampaikan PM Anutin saat berpidato dalam kunjungan perdananya ke Sekretariat ASEAN di Jakarta, Selasa, sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja selama dua hari di Indonesia, 3-4 Agustus 2026.
"Saya percaya ASEAN kini berada di sebuah persimpangan jalan. Pilihan-pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan apakah ASEAN mampu terus membentuk masa depannya sendiri serta tetap menjadi kekuatan yang dipercaya dan konstruktif, baik di tingkat kawasan maupun global," katanya.
Anutin mengatakan ASEAN saat ini menghadapi kondisi dunia yang sangat berbeda dibandingkan ketika organisasi tersebut didirikan pada 1967.
Saat itu, ujar dia, Asia Tenggara merupakan kawasan yang diwarnai konflik, ketidakpercayaan, dan persaingan. Namun, para pendiri ASEAN memilih bersatu dengan keyakinan bahwa perdamaian dimulai ketika dialog dikedepankan dibandingkan perpecahan, serta kerja sama lebih diutamakan daripada konfrontasi.
Memasuki usia ke-59 tahun, menurut Anutin, tekanan yang dihadapi ASEAN semakin kompleks karena berbagai tantangan kini saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap perekonomian maupun kehidupan masyarakat di kawasan.
Ia menyebut persaingan strategis antarnegara kini memengaruhi perdagangan, investasi, perkembangan teknologi, hingga rantai pasok global. Selain itu, konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan biaya di seluruh kawasan.
Perdana Menteri Thailand itu juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, AI dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama juga memungkinkan jaringan kejahatan beroperasi lebih cepat dan melintasi batas negara.
"Semua ini merupakan tantangan regional yang membutuhkan jawaban regional," ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Anutin menegaskan ASEAN harus merespons dengan penuh keyakinan. Menurut dia, ASEAN perlu memperkuat fondasi internal agar mampu menghadapi berbagai tekanan dari luar, sekaligus tetap menjaga kebebasan dalam menentukan pilihan strategis dan mendiversifikasi berbagai opsi saat berinteraksi dengan dunia yang lebih luas.
Ia mengatakan langkah tersebut harus diwujudkan melalui integrasi yang semakin mendalam, institusi yang lebih kuat, serta kemitraan yang lebih luas.
"Hal itu berarti memperdalam integrasi, memperkuat institusi, dan memperluas kemitraan," tambahnya.
Kunjungan seorang perdana menteri Thailand ke Sekretariat ASEAN kali ini merupakan yang pertama sejak terakhir kali dilakukan pada 2009. Sebelum mengunjungi Sekretariat ASEAN, PM Anutin juga menghadiri dan berbicara pada forum bisnis Thailand-Indonesia.
PM Anutin tiba di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (3/8) sore, untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari di Indonesia.
Kunjungan resmi tersebut merupakan lawatan perdana Anutin ke Indonesia sejak resmi menjabat sebagai perdana menteri ke-32 Thailand pada September 2025. Kunjungan itu juga menjadi kunjungan pertama seorang perdana menteri Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir.
Baca juga: Sekjen ASEAN: PM Thailand berkunjung di tengah kompleksitas tantangan
Baca juga: Prabowo-PM Thailand perkuat kemitraan strategis ASEAN
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.