gop-crypto.vip

Pengangguran Mei 2026 Terendah Sejak 1994, BPS: Belum Bisa Kaitkan dengan Program MBG

Rabu, 05 Agustus 2026, 15:45 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi 4,65%. Angka itu menjadi yang terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir atau sejak 1994.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud mengatakan capaian tersebut merupakan rekor terendah berdasarkan data yang tersedia, meski metode dan periode survei pada 1994 berbeda dengan saat ini.

"TPT sebesar 4,65% pada Mei 2026 merupakan tingkat pengangguran terendah sejak 1994," ujar Edy dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Sebagai pembanding, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 1994, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,36%.

Namun, Edy menjelaskan angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung karena menggunakan periode survei yang berbeda. Data tahun 1994 berasal dari Sakernas Agustus, sedangkan angka terbaru merupakan hasil Sakernas Mei 2026.

Terkait kemungkinan penurunan tingkat pengangguran dipengaruhi oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dia menegaskan belum dapat menarik kesimpulan dari data yang ada.

Menurut Edy, data Sakernas tidak dapat menunjukkan secara langsung hubungan antara penurunan pengangguran dengan implementasi program-program pemerintah tersebut.

Baca Juga: BPS Catat Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta Orang per Mei 2026

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,29% pada Kuartal II-2026

Baca Juga: BPS Catat Defisit Neraca Dagang US$450 Juta pada Juni 2026

Meski demikian, BPS melihat adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja di sejumlah sektor ekonomi. 

"Salah satu yang mencatat penambahan pekerja terbesar adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum," ungkap Edy.

Untuk itu, meskipun dampak MBG maupun KDMP terhadap penurunan pengangguran belum dapat dibuktikan secara langsung, peningkatan kesempatan kerja di sektor yang berkaitan dengan layanan makanan dan minuman dinilai dapat menjadi salah satu indikasi awal yang perlu dicermati lebih lanjut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.