Pengamat usul platform digital terintegrasi untuk perkuat ekspor sawit - ANTARA News Jambi
......peningkatan produktivitas tersebut berpotensi memperbesar surplus ekspor tanpa perlu membuka lahan baru......
Jakarta (ANTARA) - Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengusulkan pembentukan platform digital terintegrasi untuk menghubungkan kebun dan petani, pabrik pengolahan, dan eksportir, guna meningkatkan daya saing ekspor komoditas perkebunan, terutama minyak sawit.
“Integrasikan dengan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), serta sediakan onboarding gratis atau bersubsidi bagi smallholder. Ini adalah game changer untuk memenuhi EUDR (aturan anti deforestasi Uni Eropa) dan standar pembeli lain sekaligus membuka peluang memperoleh premium price," kata Eliza saat dihubungi di Jakarta, Senin (13/7).
Menurut dia, platform tersebut dapat mempermudah ketertelusuran (traceability) rantai pasok sekaligus membantu petani kecil memenuhi persyaratan keberlanjutan yang semakin banyak diterapkan negara tujuan ekspor.
Meski membutuhkan investasi awal yang cukup besar, Eliza menilai manfaat jangka panjangnya akan jauh lebih besar karena dapat memperkuat daya saing produk perkebunan Indonesia di pasar global.
Eliza juga menilai peningkatan produktivitas melalui program peremajaan (replanting) yang masif menggunakan bibit unggul bersubsidi, dukungan sarana produksi, pelatihan, kredit berbunga rendah, dan percepatan sertifikasi lahan dapat meningkatkan produktivitas hingga 20–40 persen dalam lima hingga tujuh tahun.
Menurut dia, peningkatan produktivitas tersebut berpotensi memperbesar surplus ekspor tanpa perlu membuka lahan baru.
Selain itu, Eliza mengusulkan pengembangan skema asuransi pertanian berbasis indeks cuaca untuk mengurangi risiko gagal panen akibat perubahan iklim.
Ia juga mendorong perluasan penyuluhan mengenai sistem intercropping dan agroforestry bagi petani kecil agar mereka memiliki sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan ketahanan usaha di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian pasar global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya masih tumbuh positif.
Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai 9,59 miliar dolar AS pada Januari—Mei 2026 atau naik 7,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan itu terjadi di tengah penurunan nilai ekspor batu bara sebesar 4,95 persen dan besi baja sebesar 1,61 persen.
Selama Januari—Mei 2026, India menjadi negara tujuan utama ekspor CPO dan produk turunannya, disusul Pakistan, China, dan Bangladesh.
Baca juga: CORE: CPO dan turunannya masih jadi andalan ekspor perkebunan RI
Baca juga: Pengamat: Ekspor PKE bukti hilirisasi tak selalu butuh investasi besar
Pewarta: Shofi Ayudiana
Uploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.