Peneliti CORE: Pengurangan kuota LPG 3 kg butuh pembenahan distribusi
Pemerintah perlu memastikan pengurangan kuota berasal dari pembatasan konsumsi kelompok mampu, bukan dari berkurangnya pasokan bagi masyarakat yang memang berhak
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pengurangan kuota LPG tabung 3 kg perlu didahului pembenahan distribusi dan ketepatan sasaran penerima subsidi agar tidak berdampak terhadap masyarakat yang berhak.
“Pemerintah perlu memastikan pengurangan kuota berasal dari pembatasan konsumsi kelompok mampu, bukan dari berkurangnya pasokan bagi masyarakat yang memang berhak,” kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pengurangan kuota sebelum distribusi dibenahi dapat memicu antrean, kenaikan harga eceran, bahkan kelangkaan di tingkat konsumen.
Ia mengatakan kelompok yang paling rentan terdampak meliputi rumah tangga berpendapatan rendah, warung dan UMKM makanan, serta pelaku usaha lainnya yang bergantung pada LPG 3 kg.
Ia menambahkan keterbatasan solar bersubsidi juga dapat meningkatkan biaya angkutan dan harga kebutuhan pokok di daerah yang sangat bergantung pada solar.
Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu membenahi penerima dan distribusi subsidi terlebih dahulu.
Baca juga: ESDM fasilitasi kemudahan perizinan distribusi LPG 3 kg untuk kopdes
Baca juga: Pertamina jamin kelancaran distribusi LPG 3 kg di Jatim
Menurut dia, penghematan fiskal tetap dapat dicapai tanpa menekan daya beli apabila pembatasan diarahkan kepada kelompok yang tidak berhak menerima subsidi.
Sebaliknya, lanjut dia, pemotongan pasokan secara langsung berisiko meningkatkan inflasi pangan dan biaya logistik, menekan UMKM, serta mendorong pemerintah menambah kuota kembali di tengah tahun.
Pemerintah dan DPR RI menyepakati anggaran subsidi energi dalam APBN 2027 sebesar Rp261,5 triliun, turun Rp11,44 triliun dibandingkan alokasi sebelumnya Rp272,94 triliun.
Pemangkasan terutama berasal dari subsidi BBM dan LPG 3 kg yang ditetapkan sebesar Rp131,39 triliun, turun dari sebelumnya Rp143,84 triliun.
Sementara itu, subsidi listrik tetap sebesar Rp130,11 triliun.
Dari sisi volume, LPG tabung 3 kg ditetapkan sebesar 8 juta metrik ton (MT), turun dari sebelumnya 8,95 juta MT. Volume BBM bersubsidi juga ditetapkan 19,56 juta kiloliter (KL), turun dari sebelumnya 20,09 juta KL.
Baca juga: Pertamina jamin stok dan distribusi LPG subsidi di Bali lancar
Baca juga: Kementerian ESDM catat pendistribusian LPG 3 kg capai 3,49 juta ton
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.