gop-crypto.vip

Pemkot Jayapura sebut jurnalis jadi profesi terdepan ungkap kebenaran

Pemkot Jayapura sebut jurnalis jadi profesi terdepan ungkap kebenaran

Sabtu, 26 September 2026 20:28 WIB

Image Print

Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru didampingi Kepala Biro LKBN ANTARA Papua Hendrina Dian Kandipi, Kepala LPP TVRI Papua Erwin Hendarwin dan jurnalis Jayapura saat menyalakan lilin sebagai tanda doa dan kebersamaan terhadap lima jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda, Jawa Barat yang dilaksanakan di Taman Imbi, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua, Jumat (25/9) 2026.ANTARA/HO-LKBN ANTARA Biro Papua.

Jayapura (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura, Papua menyebutkan jurnalis merupakan profesi terdepan dalam mengungkap fakta dan kebenaran sebuah berita di lapangan.

Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru di Jayapura, Jumat, mengatakan wartawan atau jurnalis merupakan profesi yang cukup berani dalam melakukan tugas peliputan di lapangan dalam berbagai situasi dalam menyampaikan fakta atau kebenaran kepada masyarakat.

"Jurnalis cukup berani tanpa memandang apapun, apa itu situasi darurat, situasi perang selalu terdepan ingin memahami dan mengetahui fakta yang sedang terjadi," katanya.

Menurut Rustan, sehingga dengan kejadian hilangnya lima jurnalis foto bersama tiga orang lainnya di Selat Sunda ketika melakukan peliputan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan musibah yang patut menjadi perhatian semua pihak.

"Kami turut prihatin dan bersedih atas kejadian tersebut dan berharap rombongan kelima jurnalis foto dapat segera ditemukan," ujarnya.

Dia menjelaskan perjuangan kelima jurnalis dalam mengungkap fakta erupsi di Gunung Anak Krakatau menjadi bukti profesi ini benar-benar berani menyajikan informasi bagi masyarakat.

"Sehingga dalam kegiatan doa bersama dan aksi 1000 lilin yang digelar oleh teman-teman jurnalis di Kota Jayapura dapat menjadi ikhtiar untuk memberikan titik terang dalam pencarian rombongan jurnalis yang hilang tersebut," katanya lagi.

Dia menambahkan pihaknya berharap rekan-rekan jurnalis yang hilang kontak tersebut dapat segera ditemukan dan Tuhan Yang Maha Esa memberi ketabahan juga keikhlasan bagi keluarga masing-masing.

Perwakilan salah satu jurnalis yang hadir Odeodata H. Julia mengatakan aksi 1000 lilin tersebut merupakan bentuk solidaritas spontan dari wartawan di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura untuk mengenang lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik di perairan Selat Sunda.

Menurut Odeodata, aksi tersebut dipersiapkan hanya dalam waktu sekitar tiga hari. Meski demikian, antusiasme para jurnalis cukup tinggi. Sekitar 50 hingga hampir 100 orang hadir, termasuk perwakilan Pemerintah Kota Jayapura, Polresta Jayapura Kota, serta Kejaksaan Tinggi Papua.

"Peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh jurnalis, khususnya di Papua, agar selalu mengutamakan keselamatan saat menjalankan tugas di lapangan," katanya.

Dia menjelaskan tidak ada nilai berita yang sebanding dengan keselamatan dan nyawa seorang jurnalis sehingga sebelum melakukan peliputan di wilayah rawan, wartawan harus mempersiapkan diri, membaca situasi dan menggunakan naluri jurnalistik. Jika kondisi dinilai berbahaya, jurnalis tidak boleh memaksakan diri.

“Tidak ada harga sebuah nyawa, tidak ada harga sebuah nilai berita,” ujarnya.

Dia menambahkan kejadian yang menimpa lima jurnalis di Selat Sunda menjadi pelajaran bersama bagi insan pers agar lebih berhati-hati dan selalu memprioritaskan keselamatan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Puluhan jurnalis di Kota Jayapura, Papua menggelar doa bersama dan aksi menyalakan 1.000 lilin sebagai bentuk solidaritas untuk lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Lima jurnalis tersebut sebelumnya berada dalam satu rombongan bersama tiga awak kapal untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kapal yang ditumpangi berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 7 September 2026, sebelum kemudian hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Operasi pencarian dilakukan tim SAR gabungan selama 10 hari dan resmi dihentikan pada 17 September 2026. Hingga kini, keberadaan lima jurnalis tersebut belum ditemukan.

Data Lima Jurnalis

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni:

• M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita ANTARA
• Ari Basuki, pewarta foto Merdeka.com
• Yudistiro Pranoto, pewarta foto iNews
• Firman Daus, jurnalis Anadolu Agency
• Donal Husni, jurnalis lepas

Data tersebut juga dikonfirmasi Kementerian Komunikasi dan Digital dalam pernyataannya terkait hilang kontak rombongan jurnalis di Selat Sunda.

Kelima jurnalis tersebut berada dalam kapal bersama tiga awak, yakni Warta sebagai kapten, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu. Jenazah Surakman kemudian ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dan identitasnyadipastikan melalui pemeriksaan DNA.

Pewarta : Yudhi Efendi
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026