Pemkab Sigi libatkan Lapas Perempuan optimalkan pemberdayaan WBP
Pemkab Sigi libatkan Lapas Perempuan optimalkan pemberdayaan WBP
Selasa, 18 Agustus 2026 17:10 WIB
Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae (Tengah) memberikan remisi kepada warga binaan di Lapas Perempuan Kelas III Palu berlokasi di Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (17/8/2026). ANTARA/Moh Salam
Sigi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), melibatkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Palu dalam mengoptimalkan pemberdayaan warga binaan agar siap mandiri dan produktif saat berada di tengah masyarakat.
"Tentunya pola pembinaan keterampilan maupun kepribadian di dalam lapas perlu diselaraskan dengan program pembinaan usaha dari pemerintah daerah," kata Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae di Dolo, Selasa.
Salah satu tujuannya, kata dia, agar warga binaan setelah keluar dari lapas tidak menjadi beban masyarakat, dan dapat membaur kembali dengan modal keterampilan yang didapatkan selama pembinaan tersebut.
Menurut dia, pemerintah daerah terus berkolaborasi untuk melakukan pendataan terkait keahlian warga binaan, baik di bidang tata boga, menjahit, maupun keterampilan teknis lainnya.
"Nantinya data keterampilan warga binaan itu akan disinergikan dengan dinas teknis terkait seperti Dinas UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag), serta Dinas Sosial untuk intervensi program pemberdayaan ekonomi lanjutan," ujarnya.
Ia menuturkan skema kerja sama ini juga ke depan melibatkan pemerintah provinsi sebab keberadaan Lapas Perempuan Kelas III Palu di wilayah Sigi menampung seluruh tahanan perempuan dan anak dari berbagai daerah di Sulteng.
"Melalui integrasi program antara Lapas dan pemerintah daerah, warga binaan diharapkan bisa langsung mengakses bantuan usaha, pelatihan lanjutan, hingga pendampingan pasar kerja secara berkelanjutan saat bebas," ucapnya.
Sementara itu Kepala Lapas Perempuan Palu Yoesiana menyebutkan terdapat berbagai program kemandirian untuk warga binaan melalui pembinaan keterampilan wirausaha dan jasa seperti produk kerajinan dan UMKM unggulan yang dihasilkan, antara lain produk rajutan, olahan bawang goreng khas Palu, serta olahan cokelat.
"Warga binaan juga dilatih dalam bidang jasa seperti tata rias salon dan layanan laundry termasuk ikut mendukung program Astacita Presiden terkait ketahanan pangan dengan memanfaatkan potensi lahan yang ada," kata Yoesiana.
Saat ini total penghuni Lapas Perempuan Palu mencapai 216 orang terdiri dari 180 narapidana dan 36 orang lainnya merupakan tahanan.
Pewarta : Moh Salam
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026