gop-crypto.vip

Pemerintah Petakan 28 Komoditas untuk Hilirisasi hingga 2045 |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan peta jalan hilirisasi yang mencakup 28 komoditas strategis hingga 2040-2045. Dari jumlah tersebut, pemerintah menyaring 15 komoditas untuk menjadi fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan, pemerintah menyiapkan tiga strategi untuk investasi yang berkaitan dengan hilirisasi, yakni perencanaan, eksekusi, serta strategi perizinan dan pemberian insentif.

“Pertama itu berbicara perencanaan. Kemudian kita melihat juga planning perencanaan ini, sisi eksekusinya. Yang ketiga itu kita melihat juga karena dalam hal ini kapasitas kita sebagai pemerintah regulator, tentunya kita juga akan melihat bagaimana mengenai strategi perizinan dan juga strategi insentif,” ujar Todotua saat Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Todotua mengatakan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi telah menyusun peta jalan hilirisasi dengan mempertimbangkan keragaman sumber daya alam Indonesia. Komoditas yang masuk dalam peta tersebut mencakup minyak dan gas, mineral, maritim, agrikultur, perkebunan, dan sejumlah sektor lainnya.

“Kita membuat peta jalan ini berdasarkan memang kekuatan cadangan yang ada juga. Ada 28 komoditi yang dalam rencana payung besarnya itu dalam program kita sampai kepada 2040-2045 28 komoditi yang kita siapkan,” sambung Todotua.

Menurut Todotua, pemerintah telah menghitung potensi investasi yang dapat dikembangkan dari 28 komoditas tersebut. Total potensi investasi hilirisasi diperkirakan mencapai sekitar 618 miliar dolar AS.

Untuk memusatkan pelaksanaan program dalam RPJMN, pemerintah kemudian menyaring 28 komoditas tersebut menjadi 15 komoditas.

“Kemudian untuk lebih fokus lagi dalam RPJMN itu kita sudah mendorong dari 28 ini kita squeeze lagi menjadi 15 komoditi supaya memang bisa lebih fokus lagi terhadap 15 komoditi itu,” ungkap Todotua.

Dia menjelaskan, pemetaan tersebut juga mencakup lokasi sumber daya alam dan potensi pengembangan industri di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah menggunakan data tersebut untuk menentukan daerah yang memiliki potensi sebagai lokasi investasi dan pengembangan industri hilir.

“Kita mengerti sebarannya dimana potensinya dimana sehingga nanti inilah yang akan menjadi design planning dalam kita mendorong apa namanya konsep hilirisasi. Perencanaannya ini memang kita butuhkan supaya kita mengerti strateginya,” sambung Todotua.

Todotua menilai hilirisasi penting bukan hanya untuk meningkatkan nilai tambah, tetapi juga untuk memitigasi dan mengendalikan biaya. Menurut dia, Indonesia sebagai negara dengan populasi besar memiliki kepentingan untuk menjaga efisiensi biaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kita melihat hilirisasi ini agar kita bisa memitigasi cost, kita bisa memitigasi dan mengkontrol cost,” lanjut Todotua.

Dia mengatakan, selama ini sebagian sumber daya alam Indonesia masih diolah di luar negeri sehingga nilai tambahnya tercipta di negara lain. Todotua menilai kondisi tersebut membuat Indonesia bergantung pada produk impor dan tidak memiliki kendali penuh terhadap biaya.

“Kita mengerti sumber daya alam yang kita punya ini selama ini banyak diolah di luar dan akhirnya kita bergantung terhadap impor dan kita tidak bisa mengontrol cost,” ucap Todotua.

Todotua mengatakan pemerintah ingin membangun rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam negeri. Todotua mencontohkan pengembangan industri baterai berbasis nikel yang dapat mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengolahan bijih hingga produk akhir dan daur ulang.

“Dalam ekosistem ini memang kita mendorong bagaimana agar keseluruhan ekosistem supply chain-nya ini bisa terjadi di negara kita sehingga kita tidak demanding lagi terhadap impor,” ungkap Todotua.

Menurut dia, pengembangan rantai pasok domestik tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga meningkatkan kemampuan ekspor Indonesia. Produk yang dihasilkan di dalam negeri diharapkan semakin kompetitif sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor.

“Pemerintah juga ingin memastikan hilirisasi berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi hijau,” kata Todotua.

Dia mengatakan, salah satu contoh yang disampaikan adalah pengembangan panel surya. Todotua menyebut sebagian besar material yang dibutuhkan untuk membuat panel surya sebenarnya tersedia di Indonesia.